Bangkalan – Liputan12.com – Acara peringatan Haul Bujuk Agung Sayyid Syarif Husain Banyusangkah yang diselenggarakan pada Sabtu (21/06/2026) bertempat di Desa Banyusangkah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, berlangsung dengan khidmat dan penuh keberkahan. Acara yang dihadiri oleh ratusan jamaah ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan spiritual dan ilmiah, sekaligus menegaskan pentingnya haul bukan hanya sebagai peringatan tahunan, tetapi juga sebagai ruang untuk melestarikan sejarah dan menjaga kesucian nasab para wali yang telah berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Madura.
Hadir dalam acara ini sejumlah ulama terkemuka, tokoh masyarakat dari berbagai wilayah Madura, serta delegasi resmi dari Naqobah Ansab Auliya til Tis'ah (NAAT) yang merupakan organisasi yang fokus pada penelitian dan pelestarian silsilah para wali dan ulama. Kehadiran para tokoh ini semakin mempertegas makna pentingnya acara haul yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memiliki dimensi ilmiah dan sejarah yang mendalam.
Hadir sebagai perwakilan resmi dari NAAT Daerah Istimewa Madura adalah Raden Abd. Hamid Roqib Suryodirjo, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengembangan Silsilah Nasab (LP3SN). Selain delegasi NAAT, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Umum Persyarikatan Bujuk-Bujuk Madura (PBB), Sayyid Syarif KH. Kholil Muhammad Gunung Sari, yang bertindak sebagai penceramah utama. Turut menghiasi acara dengan doa dan dukungan moral, tokoh ulama kharismatik Madura seperti Sayyid Syarif KH. Abdul Adzim Khalili dari Kepang dan Sayyid Syarif KH. Imam Bukhari dari Bangkalan.
Penelusuran Silsilah Berbasis Manuskrip Kuno
Dalam kesempatan tersebut, Raden Abd. Hamid Roqib Suryodirjo—atau yang akrab disapa Bindara Hamid—memaparkan secara detail konstruksi silsilah Bujuk Agung Sayyid Syarif Husain Banyusangkah yang telah melalui proses penelitian mendalam selama bertahun-tahun. Berdasarkan penjelasannya, jalur nasab beliau menyambung secara terarah kepada Sunan Cirebon Zen Abdul Qodir, putra dari Maulana Ishaq Tamsyi Mawali Demak, yang merupakan putra dari Maulana Ibrahim Abu Ishaq (yang masyhur dikenal sebagai Maulana Ishaq atau Sunan Malaka).
Bindara Hamid menegaskan bahwa silsilah yang diusung ini tidak diambil dari asumsi lisan belaka yang seringkali bervariasi, melainkan didasarkan pada kajian filologi yang kuat dan metodis. Pembuktian jalur keturunan ini berlandaskan pada Manuskrip Larlar, sebuah dokumen kuno yang dianggap sebagai sumber primer yang otentik, yang kemudian diperkuat oleh keberadaan dokumen sejarah lainnya seperti Manuskrip Bagandan dan Manuskrip Jaddung. Seluruh dokumen kuno tersebut secara selaras menjelaskan eksistensi Kiai Kanigoro (Sulaiman) serta validitas jalur keturunan Sunan Cirebon yang telah menjalar hingga ke Pulau Madura.
"Kita tidak bisa sembarangan mengklaim hubungan keturunan dengan para wali tanpa dasar yang kuat. Setiap langkah dalam penelusuran silsilah ini dilakukan dengan sangat hati-hati, membandingkan berbagai sumber dan melakukan verifikasi secara cermat," ujar Bindara Hamid dalam paparannya.
Pentingnya Verifikasi dan Perapian Nasab
Senada dengan pemaparan Raden Suryodirjo, Ketua Umum PBB, Sayyid Syarif KH. Kholil Muhammad Al-Jilani, dalam ceramah agamanya yang penuh makna memberikan apresiasi sekaligus dukungan penuh atas terselenggaranya haul tahunan ini. Lebih lanjut, beliau mendorong tim perbani (pencatat silsilah keluarga) yang telah dibentuk khusus untuk Bujuk Banyusangkah untuk segera merapikan dan mengodifikasi pencatatan keturunan Sayyid Syarif Husain Banyusangkah dengan standar yang lebih terstruktur dan ilmiah.
Langkah ini dinilai krusial demi memagari kemurnian nasab di masa depan dan mencegah terjadinya klaim yang tidak berdasar. Menurutnya, setelah proses dokumentasi dan verifikasi ini rampung, tidak boleh ada pihak yang mengklaim atau dinisbatkan kepada Bujuk Banyusangkah kecuali mereka yang silsilahnya telah melalui proses verifikasi secara ketat dan mendapatkan pengesahan dari para munsib resmi perbani Bujuk Banyusangkah.
"Marwah nasab adalah warisan yang sangat berharga yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Kita tidak ingin ada pihak yang menyalahgunakan nama besar para leluhur kita untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu," tegas KH. Kholil Muhammad Al-Jilani.
Sementara itu, Sayyid Syarif Ja'far Shodiq yang hadir mewakili keluarga besar Bujuk Batuampar Barat, turut menyampaikan pesan mendalam melalui gubahan qasidah yang ia bawakan. Dalam bait-bait syair yang penuh makna, beliau menegaskan sebuah falsafah bahwa genetika atau garis keturunan orang-orang mulia kelak akan melahirkan generasi yang mulia pula, yang setidaknya akan menempati derajat spiritual sebagai kaum Abrar (orang-orang baik dan saleh) jika belum mencapai derajat Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT).
Struktur Keturunan dan Garis Silsilah Atas
Berdasarkan catatan sejarah penataan silsilah yang telah diverifikasi secara ilmiah, Sayyid Syarif Husain Banyusangkah menurunkan empat putra utama yang kemudian menyebarkan keturunannya ke berbagai wilayah di Madura, yaitu:
- Sayyid Abdurrohman ing Bire: Wafat di Desa Bire, Sokobanah Daya. Beliau merupakan leluhur yang menurunkan mayoritas keturunan yang saat ini tinggal di wilayah Batuampar Barat, Kabupaten Pamekasan, dan sekitarnya.
- Sayyid Aly Amier Qodiman: Wafat di Desa Ombul, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang. Beliau menurunkan mayoritas penduduk di daerah Bire, Ombul, dan wilayah sekitarnya yang hingga kini masih menjaga hubungan kekerabatan dengan erat.
- Sayyid Isa ing Arosbaya: Garis keturunannya saat ini masih dalam proses penelusuran lebih lanjut oleh tim perbani, sehingga belum terdeteksi secara menyeluruh distribusi dan perkembangannya.
- Sayyid Abdul Wahid ing Blega: Menurunkan keturunan yang tersebar di wilayah Blega dan sekitarnya, dengan banyak keturunannya yang kini menjadi tokoh agama dan masyarakat di daerah tersebut.
Adapun jika ditarik ke atas, garis leluhur dari Sayyid Husain Banyusangkah bermuara pada Sayyid Ibrahim Abu Ishaq yang dikenal sebagai Maulana Ishaq atau Sunan Malaka. Berikut adalah urutan garis nasab vertikal yang telah diverifikasi:
Sayyid Ibrahim Abu Ishaq (Maulana Ishaq / Sunan Malaka), menurunkan:
↳ Sayyid Ishak Tamsyi Mawali ing Demak (Sutamaharaja), menurunkan:
↳ Sayyid Zain Abdul Qodir (Sunan Cirebon / Gunung Jati / Syarif Hidayatullah), yang memiliki putra-putra di antaranya:
↳ Sayyid Sulaiman Mojoagung
↳ Sayyid Bagir Baha'uddin Geloran Sidoarjo
↳ Sayyid Husain Banyusangkah
Melalui momentum haul yang penuh berkah ini, diharapkan kesadaran sejarah dan komitmen pelestarian nasab di kalangan keturunan walisongo di Madura semakin kuat, objektif, dan mampu menjaga otentisitasnya dari generasi ke generasi. Langkah-langkah ilmiah dalam penelitian silsilah juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi upaya pelestarian warisan budaya dan spiritual lainnya di berbagai daerah di Indonesia.
Penulis : Gus Tanjung


