PARIGI MOUTONG, SULAWESI TENGAH, liputan12.com - Kisah seorang siswa berprestasi asal Kabupaten Parigi Moutong mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Moh Zikri, lulusan SMAN 1 Tinombo, menjadi pusat perhatian publik setelah diketahui berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) ke Institut Teknologi Bandung (ITB) — salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia — namun kini mengalami kendala serius dalam pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Informasi mengenai kondisi yang dihadapi Moh Zikri pertama kali diposting melalui akun Facebook milik Asma Raplin, seorang warga masyarakat yang mengetahui perjuangan sang siswa. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial dan menuai simpati serta perhatian besar dari jutaan warganet di seluruh Indonesia. Hingga saat ini, postingan tersebut telah memperoleh hampir seribu tanda suka, ratusan komentar mendukung, dan dibagikan hingga ribuan kali oleh pengguna dari berbagai kalangan.
Dalam unggahannya, Asma Raplin menjelaskan bahwa Moh Zikri merupakan siswa yang telah menunjukkan prestasi akademik yang luar biasa selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Tinombo. Ia berhasil menembus seleksi yang sangat ketat untuk masuk ke ITB melalui jalur SNBP, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol mengingat persaingan yang sangat ketat dalam seleksi tersebut. Namun, di balik kebanggaan dan prestasi yang diraih, ia harus menghadapi kenyataan pahit karena keluarga tidak mampu untuk membayar biaya UKT yang menjadi syarat wajib untuk dapat mendaftar dan melanjutkan pendidikan di bangku kuliah tersebut.
"Anak ini sangat pandai, selalu berada di peringkat atas di sekolahnya. Banyak prestasi yang diraih, bahkan pernah mewakili daerah dalam olimpiade sains tingkat provinsi. Sangat disayangkan jika hanya karena masalah biaya, masa depannya yang cerah terhalang," tulis Asma dalam unggahannya.
Banyak warganet yang menyampaikan dukungan moral dan emosional melalui kolom komentar. Tak sedikit pula yang secara langsung menawarkan bantuan atau mendorong adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar Moh Zikri tetap bisa melanjutkan pendidikannya di ITB.
"Sayang sekali kalau anak berprestasi seperti ini terhambat hanya karena biaya. Harus ada solusi konkrit dari pemerintah atau pihak swasta yang bisa membantu," tulis salah satu pengguna Facebook dengan nama pengguna @Rina Dewi.
"Saya siap memberikan kontribusi kecil untuk membantu anak ini. Semoga ada yang bisa mengkoordinir bantuan agar bisa sampai tepat sasaran," tambah pengguna lain @Heri Susanto.
Kasus ini kembali membuka cakrawala diskusi publik yang mendalam tentang akses pendidikan tinggi yang belum merata bagi siswa berprestasi dari daerah-daerah, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan fasilitas dan dukungan pendidikan. Banyak pihak yang menyampaikan bahwa potensi anak-anak berbakat dari daerah tidak boleh hanya sirna karena kendala ekonomi.
Harapan pun mengalir deras agar ada perhatian serius dari berbagai pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Parigi Moutong, lembaga pendidikan, hingga pihak swasta maupun donatur yang peduli dengan pendidikan. Banyak yang mengusulkan agar dibentuk mekanisme bantuan beasiswa khusus bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, atau adanya program subsidi biaya pendidikan tinggi dari pemerintah daerah.
"Sistem pendidikan kita harus bisa menjamin bahwa prestasi tidak terkendala oleh kondisi ekonomi. Anak-anak berbakat dari daerah harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang," tulis aktivis pendidikan @Andi Prasetyo dalam tweet-nya yang juga ramai dibahas.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait seperti Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, maupun pihak ITB mengenai langkah atau solusi yang akan diambil untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi Moh Zikri. Namun, gelombang dukungan dan gerakan kolektif untuk membantu sang siswa berprestasi terus mengalir di ruang maya, bahkan mulai muncul beberapa komunitas yang menginisiasi penggalangan dana untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan Moh Zikri. Hal ini menjadi harapan baru bagi kelanjutan pendidikan sang siswa yang telah menunjukkan dedikasi dan kemampuan luar biasa dalam mengejar cita-citanya.
Penulis : Kelvin Yansa
