- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Reuni Rejo Budaya Satukan Pecinta Budaya Jawa, 350 Alumni Siap Lestarikan Warisan Leluhur

Senin, 11 Mei 2026 | 5/11/2026 10:27:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-11T15:27:22Z
Paguyuban Demak ajak lintas daerah jaga semangat budaya Jawa di tengah zaman modern

DEMAK, Liputan12.com – Semangat melestarikan budaya Jawa terus diperkuat melalui kegiatan Temu Kangen dan Reuni Akbar yang digelar meriah oleh Paguyuban Pemerhati Budaya Jawa Rejo Budoyo Demak di Caffe Boss'e Kabupaten Demak. Acara tahunan ini menjadi ajang silaturahmi lintas angkatan sekaligus penguatan komitmen untuk terus melestarikan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman modern. (11 Mei 2026)

Acara yang diisi dengan nuansa budaya Jawa yang kental berlangsung khidmat. Para peserta datang mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa beskap warna-warni lengkap dengan atribut khas. Kegiatan diawali dengan kirab Bregada I hingga XII yang dilakukan oleh anggota Rejo Budaya, menambah kesan meriah pada acara yang dihadiri ratusan peserta.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Paguyuban Rejo Budaya, Marsono menjelaskan bahwa reuni digelar sebagai wadah untuk mempererat tali persaudaraan antaranggota yang pernah belajar panatacara dan pamedharsabda Jawa di Rejo Budaya. "Semboyannya yaiku siji wadah ojo nganti bubrah seduluran salawase. Jadi meskipun profesinya berbeda-beda, kami tetap satu keluarga dan tetap menjaga budaya Jawa," ujarnya.

Menurut Marsono, sejak berdiri hingga saat ini, jumlah alumni yang telah menyelesaikan pelatihan dan mengikuti wisuda mencapai sekitar 350 orang dari berbagai daerah. Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Demak, tetapi juga datang dari Kota Semarang, Grobogan, Kudus, Pati, hingga Jepara.


"Mayoritas alumni aktif menjadi panatacara atau pembawa acara adat Jawa di berbagai kegiatan masyarakat seperti resepsi pernikahan, prosesi adat, hingga acara budaya lainnya. Mereka menjadi ujung tombak dalam menyebarkan nilai-nilai budaya Jawa di berbagai wilayah," tukasnya.

Marsono berharap paguyuban ini dapat terus berkembang dan menjadi ruang belajar budaya Jawa bagi generasi muda. Ia menilai bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya sebatas seremoni semata, tetapi harus diwariskan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara itu, Pendiri Dwijo Panuntun Rejo Budoyo, Hardo Supriyadi menjelaskan bahwa paguyuban ini pertama kali dibentuk pada tahun 2010. Awalnya, komunitas ini didirikan untuk mewadahi para peserta pelatihan panatacara agar tetap bisa berkumpul dan menjaga tali persaudaraan yang terjalin selama pelatihan.

"Kalau bukan kita yang menjaga budaya Jawa, lalu siapa lagi. Harapannya ini bisa terus berjalan dari generasi ke generasi, sehingga budaya kita tidak akan hilang oleh arus perkembangan zaman," katanya.

Hardo menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap budaya Jawa terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, jumlah peserta dari luar Kabupaten Demak yang mengikuti pelatihan maupun berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan Rejo Budaya kini semakin banyak.

Salah satu alumni angkatan VIII, Sodikin mengaku bangga bisa menjadi bagian dari komunitas Rejo Budaya. Menurutnya, paguyuban tidak hanya mengajarkan tata cara berbicara sesuai dengan adat Jawa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sopan santun, kebersamaan, dan penghormatan kepada warisan budaya leluhur.

"Saya merasa mendapat keluarga baru di sini. Budaya Jawa harus terus dijaga karena menjadi identitas dan warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang. Semoga kita semua bisa terus berkontribusi dalam melestarikan budaya kita," ungkapnya.


Penulis : Tomy

×
Berita Terbaru Update