![]() |
| Nobar Digelar Bersama Beberapa Komunitas, Dekan: Kampus Harus Jadi Ruang Kesadaran Sosial |
JEPARA, Liputan12.com – Antusiasme mahasiswa, aktivis, dan pelajar di Jepara tak terbendung saat film dokumenter kontroversial "Pesta Babi" diputar di halaman kampus Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara pada Sabtu malam (16/05/2026). Acara nobar ini menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, bahkan panitia harus membuat tiga titik pemutaran sekaligus karena banyaknya peserta yang datang.
Acara nobar digelar di depan Gedung SAINSTEK dan perpustakaan kampus, hasil kerja sama antara Book Club Jepara, Jaladara, BEM FSH UNISNU Jepara, serta sejumlah komunitas muda di Jepara. Kehadiran mereka membuktikan bahwa generasi muda Jepara mulai peduli terhadap isu nasional, khususnya terkait tema lingkungan hidup.
Sebelum pemutaran film "Pesta Babi", komunitas perempuan "Jaladara" menampilkan aksi pertunjukan seni yang mengangkat isu ketertindasan dan nilai-nilai kemanusiaan, membuat suasana menjadi hening dan menyentuh emosi para penonton yang hadir.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini mengupas tuntas persoalan deforestasi di Papua, serta menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka dari ancaman eksploitasi alam.
Salah seorang panitia, Falah, mengungkapkan bahwa kegiatan nobar ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Syariah FSH UNISNU Jepara ke-9. "Acara ini bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga sarana untuk meningkatkan pemahaman kita tentang realitas yang terjadi di daerah terpencil seperti Papua," ujarnya Sabtu (16/05/2026).
Sementara itu, Dekan FSH UNISNU Jepara Dr. Wahidullah mengapresiasi terlaksananya acara tersebut. Ia menilai film ini mampu membuka wawasan tentang ketimpangan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat adat Papua. "Kampus harus menjadi ruang untuk tumbuhnya kesadaran sosial, bukan hanya sebagai tempat belajar akademik semata," tegasnya.
Membludaknya peserta nobar menjadi bukti munculnya kepedulian generasi muda Jepara yang tidak lagi apatis terhadap isu-isu nasional maupun daerah. Mereka mulai aktif dan berani menyuarakan isu-isu krusial mulai dari lingkungan hidup, kemanusiaan, hingga keadilan sosial.
Momen ini sekaligus menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat untuk meraih gelar, tetapi juga sebagai pusat gerakan intelektual yang peduli terhadap isu-isu sosial di masyarakat.
Antusiasme yang luar biasa terlihat dari para peserta, mulai dari mahasiswa hingga berbagai kalangan masyarakat yang rela duduk lesehan dan berdesakan untuk menyaksikan pemutaran film tersebut.
Salah seorang peserta nobar, Aris, mengaku tertarik hadir karena film "Pesta Babi" tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan banyak mengalami larangan pemutaran di berbagai kampus. "Isu mengenai lingkungan hidup dan penderitaan masyarakat adat Papua sangat menarik untuk dilihat dan dikaji karena sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini," tuturnya.
Penulis : Gun Jpr
