Ogan Ilir,Liputan12 – Duka mendalam menyelimuti hati keluarga besar DPRD Kabupaten Ogan Ilir dan seluruh kerabat. Anggota dewan yang juga politisi muda, Muhammad Sayuti (41 tahun), dipanggil menghadap Sang Pencipta dengan cara yang sangat mulia, tepat saat beliau sedang bersimpuh menunaikan ibadah sholat di kediamannya, Minggu (3/5/2026) malam.
Kepergiannya yang mendadak ini bukan hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga kekaguman mendalam. Menghembuskan napas terakhir dalam keadaan sujud adalah momen yang sangat dinanti dan didoakan oleh setiap hamba, sebuah tanda kasih sayang Allah SWT yang luar biasa.
Rakan seperjuangan, Masagus Syaiful Padli, Anggota DPRD Kota Palembang, mengenang bahwa kepergian Sayuti seolah sudah dipersiapkan dengan sangat baik. Meski tengah berjuang melawan sakit yang diderita, beliau sempat menyempatkan diri meminta maaf dan memohon doa kepada orang-orang terdekatnya.
“Beliau sempat minta maaf dan minta doa. Kami bersaksi bahwa Sayuti adalah orang yang sangat baik, dan Allah sangat menyayanginya, hingga dipanggil dalam ibadah yang suci,” ujar Syaiful dengan nada getir, Selasa (5/5/2026).
Otak di Balik Gagasan yang Tajam
Kiprah Muhammad Sayuti di dunia perpolitikan Sumsel bukanlah hal baru. Selama 10 tahun, ia dikenal sebagai sosok cerdas di balik layar, tenaga ahli Fraksi PKS di DPRD Provinsi Sumsel yang piawai merangkai pemikiran dan narasi kritis.
Syaiful mengenang betapa dekatnya hubungan mereka sejak masa kampus. Sayuti bukan sekadar junior, melainkan sahabat diskusi yang pandai, terutama dalam isu-isu kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan kesehatan.
“Dulu saat isu kabut asap, interupsi yang saya sampaikan itu gagasannya dari beliau. Dia sangat cerdas dan selalu memikirkan kepentingan masyarakat,” kenang Syaiful.
Tetap Mengabdi Hingga Hari Terakhir
Sebagai wakil rakyat dari Dapil IV Ogan Ilir (Rambang Kuang, Lubuk Keliat, dan Muara Kuang), Sayuti dikenal sangat dekat dengan konstituen. Bahkan di tengah kondisi fisik yang menurun, semangat mengabdi tidak pernah pudar.
Hanya beberapa hari sebelum wafat, ia masih terlihat hadir di tengah masyarakat, menyerap aspirasi, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Di ruang sidang, ia dikenal tegas namun santun, sosok legislator yang bekerja dengan hati dan pikiran.
Di usia yang masih sangat muda, 41 tahun, Sayuti telah meninggalkan jejak pengabdian yang indah. Kepergiannya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana mempersiapkan akhir hayat dengan amal saleh dan kebaikan.
Selamat jalan pejuang rakyat, semoga sujud terakhirmu menjadi penerang di alam sana.