- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Rumah Apung untuk Mak Jah, Penjaga Terakhir Mangrove Sayung yang Jadi Benteng Melawan Abrasi

Jumat, 24 April 2026 | 4/24/2026 11:27:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-24T16:27:17Z

DEMAK, liputan12.com – Di tengah hamparan air laut yang perlahan tapi pasti menelan daratan Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, seorang wanita paruh baya tetap berdiri teguh menjaga tanah kelahirannya. Ia adalah Pasijah atau yang akrab disapa Mak Jah (56 tahun), yang dikenal sebagai "benteng terakhir" melawan abrasi sekaligus penjaga ekosistem mangrove yang tersisa di kawasan itu.

Dulu, kawasan ini adalah desa yang subur dengan sawah yang terbentang luas, tanaman palawija yang tumbuh subur, dan kehidupan masyarakat yang berkembang seperti desa pesisir pada umumnya. Namun sejak awal tahun 2000-an, kondisi mulai berubah drastis. Air rob datang lebih sering dan laut perlahan mengambil alih lahan daratan.

"Dulu desa ini awalnya penuh petani, ada sawah, palawija, semua ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik, lahan mulai terkikis," tutur Mak Jah pada Jumat (24/04/2026).


Kondisi kian memburuk sekitar tahun 2010. Rumah-rumah terendam air, lahan pertanian hilang, dan warga mulai satu per satu meninggalkan kampung halaman. Dari sekitar 200 kepala keluarga yang dulunya hidup rukun di kawasan itu, kini hanya keluarga Mak Jah yang masih bertahan.

Di saat orang lain memilih untuk hengkang mencari tempat tinggal yang lebih aman, Mak Jah justru memutuskan untuk bertahan dan berjuang melawan abrasi. Ia mulai menanam mangrove secara mandiri di sekitar rumahnya, dimulai dari sedikit bibit yang ia kumpulkan sendiri dari berbagai tempat. Upaya kecil yang ia lakukan dengan penuh kesabaran perlahan-lahan membuahkan hasil.

"Saya tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya cari dan buat sendiri. Alhamdulillah akhirnya berkembang juga. Ada juga yang peduli dari jauh, kirim bibit mangrove untuk saya tanam," cerita Mak Jah.


Kini, kawasan di sekitar rumahnya mulai kembali menunjukkan kehidupan. Mangrove yang ia tanam tumbuh menjadi penghalang alami yang mampu menahan abrasi sekaligus menjadi habitat bagi berbagai jenis makhluk hidup, mulai dari ikan, kepiting, udang, hingga berbagai jenis burung. Dari perjuangannya yang tak kenal lelah itu, Mak Jah kemudian dikenal sebagai "pejuang terakhir" kawasan pesisir Sayung, bahkan dijuluki dengan sebutan "Kartini Laut Sayung".

Hidup di tengah lautan bukanlah hal yang mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mak Jah harus menempuh perjalanan sekitar 15 hingga 30 menit menggunakan perahu untuk mencapai daratan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan sepeda menuju pasar terdekat.

"Kalau ombak besar ya benar-benar sulit, kadang bahkan tidak bisa tidur karena khawatir rumahnya tergerus. Tapi saya sudah terbiasa dengan kondisi ini, yang penting sehat dan masih bisa bekerja merawat mangrove," katanya dengan senyum.


Rumahnya pun tak luput dari ancaman abrasi yang terus datang. Ia secara bertahap merawat dan meninggikan rumah menggunakan material seadanya, bahkan memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang telah roboh akibat diterjang ombak besar.

Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi, perhatian datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui inisiatif langsung dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Mak Jah mendapatkan bantuan berupa rumah apung sebagai tempat tinggal yang lebih aman dan kokoh.

"Awalnya saya dipanggil, katanya mau dibantu rumah. Karena saya kurang mengerti urusan administrasi, saya minta anak saya yang mengurus. Alhamdulillah tidak lama kemudian bantuan rumah apung langsung diberikan," ungkapnya dengan rasa syukur yang mendalam.

Ia mengaku sangat bersyukur atas bantuan tersebut. Rumah apung yang didapatkannya bukan hanya menjadi tempat berlindung baru saat air pasang tinggi, tetapi juga sebagai penunjang aktivitasnya dalam merawat hutan mangrove yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

"Senang sekali punya rumah baru yang lebih aman. Kalau rob besar atau ombak tinggi bisa dipakai untuk tinggal dengan lebih nyaman. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan, tidak akan berhenti," ujarnya dengan semangat yang tak padam.

Meski demikian, perjuangan Mak Jah belum usai. Gelombang besar masih kerap datang dan merusak bibit mangrove yang baru saja ditanam. Namun bagi wanita yang telah menghabiskan puluhan tahun menjaga kawasan itu, hal tersebut bukanlah alasan untuk berhenti.

"Kalau tidak saya tanami dan merawat, mungkin kawasan ini sudah habis tenggelam dari dulu. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk tanah kelahiranku," ucapnya dengan tegas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menjelaskan bahwa program pemberian rumah apung merupakan solusi adaptif yang dirancang khusus bagi wilayah pesisir yang terus terdampak rob dan abrasi, seperti Desa Bedono dan Desa Timbulsloko di Kabupaten Demak.

"Program ini dijalankan secara kolaboratif antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Demak, dan Bank Jateng, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Hingga akhir tahun 2025, tercatat sudah ada 15 unit rumah apung yang telah dibangun dari berbagai sumber pendanaan, termasuk dari program CSR perusahaan dan APBD Kabupaten Demak," jelas Boedyo.

Ia menambahkan bahwa pada tahun 2026, target jumlah rumah apung yang akan dibangun bertambah menjadi 20 unit, dengan pembangunan mayoritas difokuskan di Desa Timbulsloko dan sebagian di Desa Bedono. "Sebanyak 17 unit di antaranya bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah, yang akan memberikan kemudahan bagi masyarakat pesisir terdampak abrasi," ungkapnya.

Di tengah gempuran abrasi yang tak kunjung reda dan ancaman hilangnya lahan daratan yang terus mengintai, kisah perjuangan Mak Jah menjadi pengingat bagi semua orang bahwa keteguhan hati dan kepedulian terhadap alam bisa menjadi benteng terakhir yang menjaga harapan bagi kawasan pesisir yang terancam hilang.


Penulis : Tomy

×
Berita Terbaru Update