- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kematian Khamenei Dinilai China sebagai Langkah Melanggar Kedaulatan Iran dan Menimbulkan Ketegangan Internasional

Rabu, 04 Maret 2026 | 3/04/2026 03:58:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-03T20:58:36Z

Indonesia, Liputan12.com – Pemerintah China secara resmi menyampaikan kecaman keras terhadap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2), yang menyebabkan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Melalui pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri yang dirilis di laman resminya, China menegaskan bahwa aksi militer tersebut adalah bentuk pelanggaran melanggar prinsip-prinsip dasar kedaulatan nasional dan integritas wilayah Iran, serta menimbulkan ketegangan yang dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan internasional.

“Serangan dan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran merupakan tindakan agresi yang tidak dapat dibenarkan dan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta norma dasar yang mengatur hubungan antar negara,” ungkap juru bicara Kemenlu China, seperti dikutip ANTARA. China juga menegaskan bahwa setiap aksi militer yang bersifat provokatif ini berpotensi memperburuk situasi geopolitik dan memperbesar risiko konflik berskala besar di kawasan tersebut. Oleh karena itu, China kembali menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog serta penyelesaian damai.

Sementara itu, Iran sendiri secara resmi mengonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di hari yang sama. Menurut pengumuman dari pemerintah Iran, serangan tersebut terjadi saat Khamenei tengah berada di kantornya di Tehran dan secara langsung menargetkan fasilitas penting dalam pusat kekuasaan Iran. Akibat dari serangan ini, sejumlah anggota keluarga Khamenei termasuk putrinya dan menantu laki-lakinya juga dilaporkan tewas, memperbesar jumlah korban dan memperparah suasana kehilangan nasional di Iran.

Dalam rilis resmi mereka, pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur vital, tetapi juga mengakibatkan ratusan warga negara, termasuk pejabat tinggi militer dan pejabat negara, menjadi korban luka maupun meninggal dunia. Serangan ini juga memicu gelombang serangan balasan dari Iran ke berbagai sasaran strategis di Israel dan wilayah lainnya di Timur Tengah sebagai bentuk pembalasan terhadap aksi brutal tersebut. Iran mengklaim bahwa mereka akan terus membalas setiap agresi yang dilakukan kepada mereka dan tidak akan tinggal diam.

Di tengah situasi yang semakin memanas, rakyat Iran pun turun ke jalan melakukan demonstrasi massif sebagai ekspresi duka cita dan protes keras terhadap agresi barat. Di kota-kota besar seperti Teheran, Qom, dan Mashhad, warga menggelar aksi dengan mengibarkan bendera nasional dan poster yang mengecam tindakan Amerika dan Israel, serta menyuarakan rasa solidaritas dan keadilan untuk pemimpin mereka yang gugur. Banyak warga menyalakan lilin, mengungkapkan duka, dan meneriakkan slogan yang mengutuk serangan tersebut, sebagai simbol perlawanan nasional dan tekad menjaga kedaulatan negara.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataannya yang keras mengecam Iran, menyebut Ayatollah Khamenei sebagai “salah satu tokoh paling jahat dalam sejarah modern,” dan menuding Iran telah melakukan kerja sama erat dengan Israel yang kemudian memicu serangan besar ini. Trump menambahkan bahwa Iran saat ini menghadapi tekanan luar biasa dari kekuatan global dan sistem intelijen serta pertahanan canggih yang dimiliki Amerika Serikat, sehingga mereka tidak dapat menghindar dari reaksi keras. Ia menegaskan bahwa tindakan militer tersebut adalah bagian dari upaya mengurangi ancaman Iran yang terus berkembang di kawasan dan menegaskan bahwa Amerika akan selalu siap membela sekutunya serta menjaga stabilitas regional.

Situasi tersulut semakin panas dengan ancaman balasan dari Iran, yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan serangan balasan sengit. Sejumlah serangan rudal dan serangan sasar ke lokasi strategis di Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah dilancarkan Iran sebagai bentuk perlawanan langsung terhadap serangan tidak manusiawi tersebut. Dalam pernyataan resmi mereka, pejabat militer Iran bersumpah akan terus membalas hingga pelaku utama serangan tersebut dihukum berat. Iran menargetkan setidaknya 27 lokasi, termasuk pangkalan udara Tel Nof, markas besar militer Israel, dan fasilitas industri militer strategis di Tel Aviv.

Di Iran sendiri, penderitaan rakyat dan ketegangan politik memuncak setelah berita kematian Khamenei disiarkan secara luas. Rakyat turun ke jalan secara besar-besaran di seluruh kota dan provinsi, melakukan demonstrasi dan unjuk rasa yang penuh emosi. Di Lapangan Inkilap Tehran, ratusan warga berkumpul dengan membawa bendera merah-putih-hijau, mengibarkan poster dan menyuarakan slogan-slogan anti-AS dan Israel. Mereka menyatakan rasa duka yang mendalam serta solidaritas nasional dalam menghadapi serangan keji tersebut. Di Qom, warga berkumpul di makam pimpinan revolusi Islam Iran, menyampaikan doa serta menyalakan lilin sebagai bentuk penghormatan terakhir. Sementara di Mashhad, mereka membentangkan bendera hitam dan meneteskan air mata di makam Imam Reza sebagai simbol duka cita dan perlawanan.

Pengamat internasional menilai bahwa kejadian ini dapat berdampak besar terhadap stabilitas regional dan global. Banyak negara di dunia mengamati baik-baik perkembangan situasi, sementara Dewan Keamanan PBB masih mempertimbangkan langkah responsif terhadap agresi tersebut. Di pihak lain, sejumlah analisis menilai bahwa langkah Amerika Serikat dan Israel telah memicu ketegangan yang sangat berbahaya dan berpotensi memantik konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Sebagai penutup, sejumlah pengamat menekankan perlunya diplomasi dan dialog kembali untuk meredakan ketegangan dan mencegah konflikt serius yang bisa meluas ke seluruh dunia.


#Redaksi

×
Berita Terbaru Update