Perwakilan ulama diwawancarai awak media usai melakukan audensi di DPRD Sampang terkait konser amal, Selasa, 3 Februari 2026. (Foto: RRI/Umam)
SAMPANG, Liputan12.com - Rencana penyelenggaraan konser amal bertajuk "Satu Irama Peduli Nusantara" yang sedianya akan dimeriahkan oleh Valen, seorang penyanyi jebolan Dangdut Academy 7, di Kabupaten Sampang, kini berada di ujung tanduk. Pasalnya, konser yang digadang-gadang akan menjadi ajang penggalangan dana untuk kegiatan sosial tersebut mendapatkan sorotan tajam dari kalangan ulama setempat. Mereka menilai konsep acara yang diusung berpotensi melanggar nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku di masyarakat Sampang.
Penolakan terhadap konser Valen tersebut bermula dari audiensi yang digelar di kantor DPRD Sampang pada Selasa (3/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, sejumlah ulama terkemuka dari berbagai pesantren dan organisasi keagamaan di Sampang menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran mereka kepada perwakilan panitia penyelenggara dan anggota DPRD yang hadir. Para ulama tersebut secara tegas menyatakan keberatan terhadap beberapa aspek dari konser yang dianggap bermasalah dan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
Habib Abdurahman, yang bertindak sebagai juru bicara dari perwakilan ulama Sampang, menjelaskan bahwa ada tiga poin utama yang menjadi perhatian serius mereka. Pertama, adalah potensi terjadinya ikhtilat atau campur baur antara penonton laki-laki dan perempuan dalam konser tersebut. Menurutnya, dalam ajaran Islam, interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram harus dijaga dan dibatasi agar tidak menimbulkan fitnah atau hal-hal yang tidak diinginkan. Konser dengan penonton yang bercampur baur dikhawatirkan akan melanggar prinsip ini dan memicu terjadinya perbuatan maksiat.
"Kami sangat prihatin dengan rencana konser yang berpotensi melanggar nilai-nilai agama kami. Kami tidak ingin konser ini justru menjadi ajang maksiat dan merusak moral generasi muda," ujar Habib Abdurahman dengan nada serius.
Kedua, para ulama juga menyoroti waktu pelaksanaan konser yang dinilai kurang tepat karena berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Mereka berpendapat bahwa menjelang Ramadan, umat Islam seharusnya lebih fokus mempersiapkan diri dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak amal kebaikan, dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa. Konser dengan hiburan yang berlebihan dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyukan umat dalam menyambut bulan suci Ramadan.
"Menjelang Ramadan, hati kita seharusnya lebih dekat dengan Allah SWT. Bukan malah disibukkan dengan konser dan hiburan yang berlebihan," imbuh Habib Abdurahman.
Poin ketiga yang menjadi perhatian para ulama adalah momentum penyelenggaraan konser yang bertepatan dengan perayaan Hari Valentine. Mereka khawatir konser ini akan menjadi ajang bagi para remaja untuk merayakan Valentine dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.
"Kami tahu bahwa Hari Valentine sering dikaitkan dengan pergaulan bebas dan perilaku negatif remaja. Kami tidak ingin konser ini justru menjadi sarana bagi para remaja untuk melakukan hal-hal yang tidak baik," tegas Habib Abdurahman.
Menanggapi kekhawatiran para ulama tersebut, panitia penyelenggara konser yang diwakili oleh Zakaria menyatakan bahwa pihaknya sangat menghormati masukan dan saran dari para ulama. Ia berjanji akan mempertimbangkan kembali konsep acara dan berupaya untuk menyesuaikannya agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku di masyarakat Sampang.
"Kami sangat menghargai masukan dari para ulama. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat konser ini tetap menghibur, namun tetap sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya kita," ujar Zakaria.
Zakaria menambahkan bahwa pihaknya bersedia untuk berdialog lebih lanjut dengan para ulama untuk mencari solusi terbaik. Ia berharap konser ini tetap dapat dilaksanakan dengan konsep yang lebih Islami dan memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat Sampang.
Namun, hingga saat ini belum ada kepastian apakah konser Valen di Sampang akan tetap dilaksanakan atau tidak. Para ulama masih menunggu itikad baik dari panitia penyelenggara untuk mengubah konsep acara agar sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma sosial yang berlaku. Jika panitia tidak bersedia untuk melakukan perubahan, maka para ulama akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk membatalkan konser tersebut.
#Redaksi
