-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Mahasiswa di Malang: Alarm Darurat Kesehatan Mental Berbunyi Keras, Butuh Penanganan Komprehensif!

Jumat, 23 Januari 2026 | 1/23/2026 03:11:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T08:11:38Z

Malang, Liputan12.com - Aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta pada Senin (19/1/2026) dini hari kembali mengguncang Kota Malang. Kejadian ini menambah panjang daftar kasus serupa yang menimpa mahasiswa di kota pendidikan ini, sekaligus menjadi sinyal darurat tentang krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan.

TA (25) ditemukan tergeletak di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meskipun mengalami patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan ini berhasil diselamatkan dan dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan intensif.

Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta, Kepala Polsek Lowokwaru, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan seorang pengemudi ojek daring yang menjadi saksi mata, korban terlihat mondar-mandir dengan gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya memutuskan untuk melompat.

"Saksi melihat seseorang jatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melaporkan kejadian ini kepada polisi dan relawan. Petugas dan tim medis segera mengevakuasi korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis," jelas Anang pada Selasa (20/1/2026).

Motif di balik aksi nekat TA terungkap dari pesan singkat yang dikirimkan kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Dalam pesan tersebut, korban meminta maaf dan merasa bersalah karena telah merepotkan keluarga akibat skripsinya yang tak kunjung selesai.

Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi saksi bisu bagi tragedi yang menimpa mahasiswa yang mengalami kebuntuan dalam hidupnya. Sebelumnya, pada akhir November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal dunia di lokasi yang sama. Bahkan, pada Juli 2024, seorang mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidupnya di Jembatan Tunggulmas, meskipun nyawanya berhasil diselamatkan.

Kompol Anang Tri Hananta mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menjadi pemicu utama dari rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain tekanan akademik yang tinggi, ancaman drop out, kegagalan dalam ujian, masalah percintaan, konflik dengan orang tua, serta jeratan pinjaman online (pinjol).

Luluk Dwi Kumalasari, seorang sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti fenomena ini sebagai akibat dari tekanan struktural yang dialami oleh Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis yang semakin berat dengan adanya standardisasi internasional tidak hanya menekan para dosen, tetapi juga para mahasiswa yang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam.

Selain itu, ekspektasi yang tinggi dari keluarga juga menjadi faktor yang memperparah situasi. Biaya kuliah yang mahal seringkali diartikan sebagai tuntutan untuk mendapatkan nilai yang sempurna, tanpa memperhatikan proses belajar dan pemanfaatan ilmu yang diperoleh.

"Tuntutan dari keluarga ini seringkali menimbulkan ketakutan pada anak jika nilainya tidak sesuai harapan. Akhirnya, mereka mulai berbohong demi menutupi kekurangan mereka," ujar Luluk.

Luluk juga menambahkan bahwa kesepian menjadi salah satu faktor pemicu utama bagi mahasiswa yang merantau. Banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan.

×
Berita Terbaru Update