Sampang, Liputan12.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang terus menunjukkan komitmennya dalam melindungi hak-hak anak, khususnya dalam upaya pencegahan pernikahan dini. Melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Pemkab Sampang secara aktif melaksanakan program edukasi yang menyasar para pelajar di berbagai sekolah di wilayahnya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para pelajar mengenai bahaya pernikahan dini, serta memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai kesehatan reproduksi dan dampak negatif dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Pendamping UPTD PPA Sampang, Novita Febriyanti, menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilakukan tidak hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga dirancang untuk menciptakan interaksi yang aktif dan partisipatif antara narasumber dan peserta. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan para pelajar, sehingga mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
"Kami berupaya untuk menciptakan suasana yang nyaman dan terbuka, sehingga para pelajar tidak merasa sungkan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat mereka. Kami ingin mereka memahami bahwa kami hadir sebagai teman yang siap membantu dan memberikan solusi jika mereka menghadapi masalah," ujar Novita pada Kamis, 22 Januari 2026.
Fokus utama dari edukasi ini adalah memberikan pemahaman yang mendalam kepada anak-anak mengenai berbagai aspek penting yang terkait dengan pernikahan dini, seperti kesiapan fisik, mental, emosional, dan sosial. Para pelajar diberikan penjelasan mengenai bagaimana pernikahan dini dapat berdampak negatif pada kesehatan reproduksi mereka, serta menghambat kesempatan mereka untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi dan mengembangkan potensi diri secara optimal.
"Kami memberikan penekanan pada pemahaman anak tentang kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi pernikahan. Kami menjelaskan bahwa organ reproduksi mereka belum sepenuhnya matang dan siap untuk melakukan hubungan seksual dan mengandung anak. Pernikahan dini juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, seperti anemia, infeksi saluran kemih, dan kanker serviks," jelas Novita.
Selain itu, para peserta juga diberikan informasi yang detail dan faktual mengenai dampak negatif dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mereka diajak untuk memahami bahwa pasangan yang menikah di usia anak-anak memiliki potensi yang lebih besar untuk mengalami KDRT, baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi.
"Kami juga menyampaikan bahaya KDRT kepada para peserta. Kami menjelaskan bahwa KDRT adalah tindak kekerasan yang melanggar hak asasi manusia dan dapat menyebabkan trauma yang mendalam bagi korban. Kami juga memberikan contoh-contoh konkret mengenai bentuk-bentuk KDRT yang sering terjadi dalam rumah tangga," kata Novita.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, para peserta juga diberikan informasi mengenai layanan pengaduan dan konseling yang tersedia jika mereka mengalami tindak kekerasan atau memiliki masalah terkait pernikahan dini. Kontak layanan UPTD PPA, nomor telepon penting, dan alamat lembaga-lembaga yang dapat memberikan bantuan disampaikan kepada para siswa agar mereka tahu kemana harus melapor jika mengalami masalah.
"Kami ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendirian dan ada banyak pihak yang peduli dan siap membantu mereka. Kami memberikan informasi mengenai layanan pengaduan yang mudah diakses, sehingga mereka tidak merasa takut atau malu untuk melaporkan jika mengalami kekerasan," kata Novita.
Novita berharap kegiatan sosialisasi ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi para pelajar di Kabupaten Sampang. "Kami berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, cerdas, kreatif, dan terlindungi dari berbagai potensi kekerasan dan pernikahan dini. Kami ingin mereka memiliki masa depan yang cerah dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa," pungkasnya.
Upaya Pemkab Sampang dalam mencegah pernikahan dini ini merupakan langkah yang penting dan strategis untuk mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan mandiri. Diharapkan program ini dapat terus ditingkatkan dan diperluas, sehingga dapat menjangkau seluruh pelajar di Kabupaten Sampang dan memberikan dampak yang lebih besar bagi kemajuan daerah.
