-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kalam Hikmah dari Sidogiri: Mengolah Kata, Menuai Bijaksana - Refleksi tentang Kekuatan Diam di Tengah Kebisingan Zaman

Selasa, 20 Januari 2026 | 1/20/2026 05:26:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-20T01:36:37Z

 

PP. Sidogiri - Di tengah riuhnya informasi dan derasnya arus komunikasi digital, Pondok Pesantren Sidogiri kembali hadir dengan oase kebijaksanaan. Sebuah kalam hikmah yang bersumber dari khazanah intelektual Islam klasik mengajak kita untuk sejenak merenung, menarik napas dalam, dan mempertimbangkan kembali nilai penting dari sebuah sikap yang seringkali terlupakan: diam.

Kalam hikmah ini bukan sekadar anjuran untuk membungkam diri. Lebih dari itu, ia adalah ajakan untuk mengolah kata dengan cermat, menimbang setiap ucapan yang hendak dilontarkan, dan menyadari bahwa terkadang, kehadiran terbaik kita adalah dalam kesunyian yang penuh makna.

"Lebih baik menyesal karena memilih diam daripada menanggung penyesalan akibat kata-kata yang terlanjur keluar," demikian pesan yang terpatri dalam kalam hikmah tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan pada situasi yang memicu emosi dan mendorong kita untuk segera memberikan respons. Namun, kalam hikmah ini mengingatkan bahwa tidak semua situasi menuntut tanggapan segera. Terkadang, justru dalam keheninganlah kita dapat menemukan kejernihan pikiran, ketenangan hati, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Diam bukanlah wujud dari kelemahan atau ketidakpedulian. Sebaliknya, ia adalah manifestasi dari pengendalian diri, kedewasaan emosional, dan kemampuan untuk memahami kompleksitas situasi dengan lebih jernih. Dengan menahan diri dari perkataan yang gegabah, kita dapat menghindari konflik yang tidak perlu, menjaga hubungan baik dengan orang lain, dan melindungi diri dari potensi penyesalan di kemudian hari.

Kalam hikmah ini juga menyoroti betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata. Ucapan yang terucap tak dapat ditarik kembali, dan dampaknya dapat bertahan lama, bahkan mengubah jalan hidup seseorang. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berhati-hati dalam memilih kata-kata, memastikan bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan membawa kebaikan, memberikan manfaat, dan tidak menyakiti hati siapa pun.

Dalam tradisi pesantren, kemampuan untuk berbicara dengan bijak dan menahan diri dari perkataan yang buruk merupakan salah satu indikator kualitas seorang santri. Kalam hikmah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ilmu pengetahuan dan kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan akhlak yang mulia dan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Kalam hikmah ini bersumber dari Kitabul-Amtsal, sebuah karya klasik yang ditulis oleh Abi Ubaid bin Salam al-Harawi (w. 224 H), seorang ulama terkemuka yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang bahasa Arab, sastra, dan hadits.

 

#Sidogiri #KalamHikmah

×
Berita Terbaru Update