Kampar, Liputan12.com — Keamanan dan kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian setelah 12 siswa SDN 044 Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, mengalami keluhan gatal dan mual hingga harus mendapatkan perawatan medis.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa pagi. Keluhan dilaporkan muncul setelah para siswa menyantap makanan yang diterima melalui program MBG.
Meski demikian, pihak sekolah belum menyimpulkan bahwa gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Kepastian mengenai sumber keluhan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
Kepala SDN 044 Karya Indah, Iwan Saipudin, mengatakan pihak sekolah langsung mengambil langkah penanganan setelah melihat kondisi sejumlah siswanya.
Para siswa terlebih dahulu dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan awal. Namun, setelah dilakukan penanganan, mereka kemudian disarankan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSD Madani Kota Pekanbaru.
"Untuk penyebabnya belum bisa dipastikan. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan," demikian keterangan pihak sekolah.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kejadian tersebut adalah waktu munculnya keluhan. Gejala gatal dan mual dilaporkan muncul tidak lama setelah siswa mengonsumsi makanan MBG. Pihak sekolah juga menyebut para siswa belum sempat membeli makanan lain di kantin sekolah sebelum mengalami keluhan.
Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa makanan MBG menjadi penyebabnya. Berbagai kemungkinan tetap harus diperiksa secara medis dan ilmiah.
Tim medis diketahui telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi penting untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi, kandungan tertentu, atau faktor lain yang berkaitan dengan munculnya keluhan para siswa.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menyangkut standar keamanan pangan, kebersihan pengolahan, distribusi, hingga kondisi makanan ketika diterima dan dikonsumsi siswa.
Karena menyasar anak-anak sekolah, setiap dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG perlu ditangani secara serius, transparan, dan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 12 siswa masih menjalani perawatan dan pemantauan medis di RSD Madani Kota Pekanbaru.
Publik kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya persoalan pada makanan, evaluasi terhadap proses penyediaan dan distribusi MBG perlu segera dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan penyebab lain, informasi tersebut juga penting disampaikan secara terbuka agar tidak terjadi kesimpulan sepihak terhadap program MBG maupun pihak penyedia makanan.
Editor: Alfitria


