- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Saksi Bisu Irigasi Desa Kuluran, Mesin Diesel Yanmar Era Kolonial Pernah Hidupi Sawah Warga

Rabu, 07 Oktober 2026 | 10/07/2026 01:50:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-07T06:50:33Z
Di tengah sawah Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, Lamongan, sebuah mesin diesel Yanmar peninggalan era kolonial masih berdiri kokoh. Meski karat dan tak lagi meraung, mesin tua itu pernah menjadi nadi pengairan yang menghidupi ratusan hektar sawah warga.


Lamongan, Liputan12.com – Di tengah perkembangan teknologi pertanian yang semakin modern, sebuah mesin diesel tua di Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, justru menyimpan cerita panjang tentang perjuangan para petani pada masa lalu.


Mesin diesel bermerek Yanmar tersebut hingga kini masih berdiri kokoh sebagai salah satu peninggalan yang menyimpan kenangan kolektif masyarakat Desa Kuluran. Meski sudah tidak lagi beroperasi seperti pada masa kejayaannya, keberadaan mesin tua itu menjadi saksi bisu perjalanan sistem irigasi pertanian yang pernah menopang kehidupan warga.


Pada masanya, mesin tersebut memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pengairan sawah. Dengan tenaga diesel, air dialirkan dari sumber sungai menuju lahan-lahan pertanian warga, sehingga aktivitas bercocok tanam tetap dapat berlangsung ketika pasokan air alami tidak mencukupi.



Bagi masyarakat desa, keberadaan mesin itu bukan sekadar persoalan teknologi lama. Di balik bentuknya yang sederhana dan usianya yang telah puluhan tahun, tersimpan kisah tentang bagaimana para pendahulu mengandalkan keterampilan, gotong royong, dan teknologi yang tersedia pada zamannya untuk mempertahankan produktivitas pertanian.


Sistem pengairan tersebut turut membantu mengairi lahan pertanian warga dalam jumlah cukup luas. Air menjadi faktor penting bagi para petani untuk menjaga tanaman tetap tumbuh dan memastikan roda perekonomian masyarakat berbasis pertanian terus berjalan.


Kepala Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, Ahmad Syafik, mengaku bangga dengan keberadaan peninggalan tersebut. Menurutnya, mesin diesel Yanmar itu tidak semestinya hanya dilihat sebagai benda tua yang sudah tidak digunakan.


«“Mesin diesel Yanmar ini bukan sekadar tumpukan besi tua, melainkan bagian penting dari sejarah dan kerja keras para sesepuh Desa Kuluran dalam membangun sektor pertanian,” ujar Ahmad Syafik.»


Menurutnya, mesin tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Desa Kuluran dalam mengelola sektor pertanian. Keberadaannya sekaligus menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui perjuangan dan inovasi dari generasi ke generasi.


Ahmad Syafik menambahkan, pemerintah desa berencana terus menjaga keberadaan mesin tersebut agar tidak hilang ditelan zaman. Peninggalan itu dinilai memiliki nilai edukasi, khususnya bagi generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan teknologi pertanian modern.


«“Kami berencana untuk tetap menjaga dan merawat peninggalan ini agar generasi mendatang dapat mempelajari serta menghargai perjuangan para pendahulu. Mesin ini adalah simbol ketahanan pangan dan warisan budaya yang patut kita lestarikan bersama,” tegasnya.»


Kini, ketika teknologi pertanian telah berkembang jauh lebih modern, mesin diesel Yanmar tersebut seolah menjadi pengingat tentang sebuah masa ketika suara mesin dan aliran air menjadi bagian penting dari kehidupan para petani Desa Kuluran.


Meski tidak lagi menjadi penggerak utama irigasi, keberadaannya tetap memiliki arti. Ia menjadi saksi bisu perjalanan pertanian Desa Kuluran, sekaligus simbol perjuangan para pendahulu dalam menjaga sawah, pangan, dan kehidupan masyarakat.


Bagi warga, merawat mesin tua itu bukan hanya mempertahankan sebuah benda bersejarah, tetapi juga menjaga cerita tentang bagaimana desa pernah tumbuh dan bertahan melalui kekuatan pertanian serta semangat gotong royong. (Ther)





×
Berita Terbaru Update