- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Memaknai Hari Santri: Revitalisasi Semangat Jihad, Penegakan Agama, dan Perlawanan terhadap Kezaliman

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 10/24/2026 02:40:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-23T19:40:34Z
Ilustrasi visual peringatan Hari Santri yang mengangkat tema revitalisasi semangat jihad, penegakan nilai-nilai agama, dan perlawanan terhadap kezaliman. Momentum Hari Santri menjadi pengingat atas peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa, sekaligus mendorong penguatan integritas, keberanian menyuarakan kebenaran, serta komitmen memperjuangkan keadilan dan menjaga persaudaraan. (Ilustrasi: Liputan12.com)


Sampang, Liputan12.com — Peringatan Hari Santri Nasional tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan, penggunaan atribut santri, maupun kegiatan keagamaan yang bersifat simbolis. Lebih dari itu, Hari Santri merupakan momentum refleksi sejarah untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan agama, membela tanah air, serta menegakkan nilai-nilai keadilan di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Salah satu tonggak sejarah yang melekat dalam perjalanan perjuangan kaum santri di Indonesia adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus memperlihatkan peran ulama dan santri dalam merespons ancaman penjajahan.


Dalam perspektif keagamaan, semangat perjuangan tersebut dapat direnungkan melalui keteladanan para sahabat Rasulullah SAW, khususnya peristiwa Bai'aturridhwan yang mengandung pelajaran tentang kesetiaan, keberanian, solidaritas, dan kesungguhan dalam membela kebenaran.


Bai'aturridhwan: Keteguhan Iman dan Solidaritas Para Sahabat


Peristiwa Bai'aturridhwan terjadi ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat berada di Hudaibiyah. Saat itu, Utsman bin Affan RA diutus ke Makkah untuk menyampaikan pesan kepada kaum Quraisy. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman telah terbunuh, Rasulullah SAW membaiat para sahabat di bawah sebuah pohon sebagai bentuk komitmen untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi.


Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Bai'aturridhwan, sebuah momen bersejarah yang menunjukkan keteguhan hati para sahabat dalam menghadapi ancaman serta kesediaan mereka untuk berdiri bersama Rasulullah SAW dalam situasi yang penuh ketidakpastian.


Allah SWT mengabadikan peristiwa tersebut dalam Al-Qur'an, Surah Al-Fath ayat 18:


لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا


Artinya:


“Sesungguhnya Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, lalu Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, kemudian Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.”


Ayat tersebut menegaskan kemuliaan keimanan, ketulusan niat, dan kesetiaan para sahabat dalam menghadapi ujian. Nilai-nilai itulah yang dapat dijadikan bahan renungan dalam memaknai Hari Santri: bahwa perjuangan membutuhkan keteguhan hati, keberanian moral, dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas keyakinan yang dianut.


Namun, keteladanan sejarah tersebut juga perlu dipahami sesuai konteksnya. Peristiwa Bai'aturridhwan tidak dapat dilepaskan dari situasi khusus yang dihadapi Rasulullah SAW dan para sahabat. Karena itu, penerapannya dalam kehidupan masa kini perlu berlandaskan pemahaman agama yang utuh, kebijaksanaan, serta prinsip keadilan.


Kesabaran Bukan Alasan untuk Membiarkan Kezaliman


Dalam kehidupan bermasyarakat, kesabaran merupakan akhlak yang mulia. Akan tetapi, kesabaran tidak semestinya dijadikan alasan untuk membenarkan ketidakadilan, membiarkan penindasan, atau menutup mata terhadap kemungkaran.


Sikap sabar yang sesungguhnya bukan berarti menyerah kepada keadaan, melainkan kemampuan menjaga keteguhan prinsip sembari memilih jalan yang benar dalam menghadapi persoalan. Seorang muslim dituntut untuk tetap berpegang pada kebenaran, menjaga akhlak, serta menghindari tindakan yang justru melahirkan kezaliman baru.


Dalam kerangka tersebut, perjuangan melawan kezaliman dapat diwujudkan melalui pendidikan, dakwah, penguatan kesadaran masyarakat, pembelaan terhadap kelompok yang tertindas, serta keberanian menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang tidak adil.


Para santri, dengan bekal ilmu agama dan tradisi keilmuan pesantren, memiliki ruang pengabdian yang luas untuk mengambil peran tersebut. Mereka dapat menjadi bagian dari masyarakat yang kritis, berintegritas, dan berani memperjuangkan kepentingan umum tanpa kehilangan kesantunan maupun tanggung jawab moral.


Dengan demikian, semangat Hari Santri tidak cukup dimaknai sebagai romantisme perjuangan masa lalu. Nilai-nilai perjuangan itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang relevan dengan tantangan zaman.


Jihad Melawan Hawa Nafsu dan Keberanian Menegakkan Kebenaran


Pembahasan mengenai jihad kerap menghadirkan beragam pemahaman di tengah masyarakat. Karena itu, penting untuk menempatkan konsep jihad dalam kerangka ajaran Islam yang menyeluruh, dengan memperhatikan tujuan, ketentuan agama, serta batas-batas etika yang menyertainya.


Perjuangan melawan hawa nafsu merupakan bagian penting dari pembinaan diri seorang muslim. Mengendalikan keserakahan, menahan amarah, melawan rasa takut ketika harus membela pihak yang lemah, dan menolak godaan untuk mengorbankan prinsip demi keuntungan pribadi merupakan tantangan moral yang tidak ringan.


Dalam konteks kehidupan modern, keberanian menegakkan kebenaran dapat terlihat ketika seseorang bersedia menyuarakan fakta meskipun menghadapi tekanan, menolak praktik korupsi meskipun memperoleh kesempatan untuk mengambil keuntungan, serta membela hak masyarakat tanpa memandang kedudukan atau kekuasaan pihak yang dihadapi.


Jihad dalam pengertian perjuangan di jalan Allah tidak boleh dipersempit menjadi persoalan keberanian fisik semata. Ia juga menuntut kedisiplinan moral, pengendalian diri, keteguhan memegang amanah, dan kesediaan menanggung konsekuensi ketika memperjuangkan sesuatu yang benar.


Adapun penggunaan kekuatan bersenjata memiliki ketentuan dan batasan tersendiri dalam ajaran Islam serta tidak dapat dibenarkan hanya berdasarkan penilaian sepihak bahwa suatu pihak merupakan musuh agama. Semangat perjuangan harus tetap tunduk pada ketentuan hukum, perlindungan terhadap warga sipil, dan larangan melakukan tindakan sewenang-wenang.


Amar Ma'ruf Nahi Munkar sebagai Inti Pengabdian Sosial


Salah satu pesan penting yang dapat diangkat dalam peringatan Hari Santri adalah penguatan prinsip amar ma'ruf nahi munkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.


Prinsip ini menuntut keberanian untuk mengingatkan ketika terjadi penyimpangan, sekaligus kebijaksanaan dalam menentukan cara penyampaian. Kritik terhadap ketidakadilan harus disampaikan dengan dasar yang jelas, tidak dibangun di atas fitnah, serta diarahkan untuk memperbaiki keadaan.


Dalam konteks kehidupan bernegara, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pengawasan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, penyampaian aspirasi secara bertanggung jawab, penguatan budaya antikorupsi, serta pembelaan terhadap hak-hak warga negara.


Menyampaikan kritik kepada penguasa yang dinilai zalim merupakan bagian dari tradisi nasihat dan pengawasan moral dalam Islam. Namun, kritik harus disertai fakta, argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan cara yang tidak menghalalkan segala bentuk tindakan.


Sebuah hadis yang sering dikutip dalam pembahasan keberanian menyampaikan kebenaran berbunyi:


أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ


Artinya:


“Seutama-utama jihad adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.”


Hadis tersebut diriwayatkan dalam sejumlah kitab hadis, termasuk Sunan Abu Dawud. Pesan moral yang terkandung di dalamnya menekankan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan, terutama ketika masyarakat menghadapi ketidakadilan.


Dalam kehidupan demokratis, nilai tersebut dapat diterjemahkan melalui kritik yang berbasis fakta, jurnalisme yang independen dan bertanggung jawab, advokasi hukum, serta partisipasi publik yang mengedepankan kepentingan masyarakat luas.


Keberanian semacam ini bukan semata-mata keberanian berbicara, melainkan juga kesanggupan menjaga integritas, menghindari manipulasi informasi, dan tetap menghormati martabat manusia ketika menghadapi perbedaan pandangan.


Hari Santri dan Tantangan Menghadapi Islamofobia


Di tengah perkembangan sosial dan politik, pemaknaan Hari Santri juga tidak dapat dilepaskan dari tantangan berupa prasangka terhadap Islam dan kehidupan umat muslim. Pelabelan yang tidak berdasar terhadap kelompok keagamaan tertentu berpotensi memperlebar jarak sosial dan menghambat dialog yang sehat.


Namun, upaya menghadapi Islamofobia perlu dilakukan dengan cara yang terukur, berlandaskan fakta, dan tidak menggeneralisasi kelompok lain. Tuduhan terhadap pihak tertentu harus didukung bukti, sedangkan perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui dialog, pendidikan, serta mekanisme hukum yang berlaku.


Demikian pula, istilah radikalisme perlu digunakan secara cermat dan tidak dijadikan alat untuk mencurigai seluruh kalangan santri, ulama, atau umat Islam yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.


Sikap kritis terhadap kekuasaan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang sehat. Pada saat yang sama, penolakan terhadap kekerasan, perlindungan hak warga negara, dan penghormatan terhadap hukum merupakan prinsip yang perlu dijaga oleh semua pihak.


Santri tidak seharusnya didorong untuk memusuhi sesama muslim hanya karena perbedaan pandangan. Sebaliknya, tradisi pesantren yang mengajarkan ilmu, adab, dan penghormatan terhadap perbedaan dapat menjadi modal penting untuk membangun persaudaraan sekaligus memperkuat keberanian menghadapi ketidakadilan.


Menghidupkan Kembali Ruh Resolusi Jihad


Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 memiliki tempat penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Semangat yang menyertainya mengingatkan bahwa agama, tanggung jawab kebangsaan, dan kepedulian terhadap nasib masyarakat dapat berjalan beriringan.


Menghidupkan kembali ruh Resolusi Jihad pada masa kini tidak berarti menyalin seluruh bentuk perjuangan masa lalu tanpa mempertimbangkan perubahan keadaan. Yang perlu dirawat adalah nilai pengorbanan, keberanian, persatuan, kecintaan terhadap tanah air, dan komitmen untuk membela kebenaran.


Dalam menghadapi persoalan kontemporer, santri dapat mengambil peran melalui penguatan pendidikan, pemberantasan korupsi, pendampingan masyarakat yang rentan, penyebaran informasi yang terverifikasi, serta pengawasan terhadap kebijakan publik.


Perjuangan tersebut menuntut keberanian untuk bersikap kritis sekaligus kemampuan menjaga persatuan. Sebab, penegakan keadilan tidak akan mencapai tujuannya apabila dilakukan dengan menyebarkan kebencian, merendahkan martabat orang lain, atau membenarkan kekerasan di luar ketentuan hukum.


Hari Santri semestinya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan antara ilmu dan amal, keberanian dan kebijaksanaan, serta keteguhan prinsip dan tanggung jawab sosial.


Penutup: Santri sebagai Penjaga Moral dan Keadilan


Pada akhirnya, memaknai Hari Santri sebagai revitalisasi semangat jihad dan perlawanan terhadap kezaliman berarti menempatkan santri sebagai bagian dari kekuatan moral masyarakat. Mereka diharapkan mampu menjaga ajaran agama, memperjuangkan keadilan, menyampaikan kebenaran, dan mengabdikan ilmu demi kemaslahatan bersama.


Warisan perjuangan para ulama tidak hanya terletak pada keberanian menghadapi ancaman, tetapi juga pada keteguhan menjaga amanah, kesungguhan mendidik umat, dan komitmen untuk membangun kehidupan yang bermartabat.


Semangat Resolusi Jihad perlu terus dihidupkan melalui perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman: melawan kebodohan dengan ilmu, menghadapi korupsi dengan integritas, menolak penindasan melalui advokasi yang bertanggung jawab, serta menjawab kebencian dengan keteguhan prinsip dan kebijaksanaan.


Dengan demikian, Hari Santri tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi panggilan untuk terus menghadirkan agama sebagai sumber kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.


Selamat Hari Santri. Menjaga tradisi, menguatkan integritas, menegakkan keadilan, dan merawat persaudaraan.



Redaksi 

×
Berita Terbaru Update