Aceh Timur, Liputan12.com — Jalan yang berlubang bukan sekadar persoalan permukaan yang rusak.
Bagi masyarakat di pedalaman, jalan merupakan urat nadi yang menghubungkan rumah dengan kebun, hasil bumi dengan pasar, serta aktivitas sehari-hari dengan pusat-pusat ekonomi.
Di ruas yang menghubungkan Gampong Lhok Dalam dengan Panton Rayeok M, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, kondisi jalan yang sebelumnya rusak dan berlubang parah kini mulai mendapat penanganan.
Kamis (1/10/2026), aktivitas pengerasan terlihat di sepanjang sekitar 1.200 meter ruas jalan tersebut.
Material base B ditaburkan sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah membuat jalur yang selama ini dikeluhkan warga kembali lebih mudah dilalui.
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., turun langsung meninjau proses pengerjaan tersebut.
Di balik pengerasan jalan yang tampak sederhana, tersimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana membuka kembali akses masyarakat sekaligus menyiapkan jalan yang benar-benar layak untuk jangka panjang.
Bukan Sekadar Menutup Lubang
Ruas Lhok Dalam–Panton Rayeok M bukan hanya jalan yang menghubungkan dua kawasan. Jalur ini melintasi tiga kecamatan, yakni Idi Rayeuk, Idi Tunong dan Banda Alam.
Kerusakan jalan selama ini menjadi keluhan masyarakat. Lubang-lubang di badan jalan bukan hanya memperlambat perjalanan, tetapi juga membuat pengguna jalan harus lebih berhati-hati.
Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian dan hasil alam, kondisi jalan memiliki arti yang lebih luas.
Ketika akses terganggu, perjalanan hasil produksi menuju pusat ekonomi pun ikut tersendat.
Karena itu, pengerasan yang dilakukan pemerintah daerah menjadi langkah awal untuk mengurangi persoalan tersebut.
“Ini merupakan penanganan sementara agar masyarakat bisa mengakses jalan ini dengan mudah tanpa ada lubang yang bisa mengancam keselamatan,” kata Al-Farlaky saat meninjau lokasi.
Kata sementara menjadi bagian penting dari penanganan itu.
Sebab, pemerintah Kabupaten Aceh Timur tidak menjadikan pengerasan tersebut sebagai akhir dari persoalan. Pembangunan permanen ruas jalan Lhok Dalam–Panton Rayeok M telah direncanakan untuk dilaksanakan pada 2027.
Jalan dan Denyut Ekonomi
Di wilayah pedalaman, jalan tidak hanya berbicara tentang aspal, beton atau batu.
Ada hasil kebun yang harus dibawa keluar. Ada kebutuhan masyarakat yang harus masuk. Ada anak-anak yang harus bersekolah, warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran transportasi.
Bupati Al-Farlaky melihat pembangunan jalan dalam konteks tersebut.
Menurutnya, semakin baik akses jalan, semakin terbuka pula peluang masyarakat menggerakkan roda perekonomian.
“Kalau aksesnya baik, tidak dapat dipungkiri denyut nadi ekonomi masyarakat akan lebih cepat. Kita pahami bahwa jalan ini akan membantu mendongkrak ekonomi masyarakat di sini,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembangunan jalan tidak berhenti pada persoalan infrastruktur. Di balik sebuah ruas jalan, terdapat harapan agar biaya dan waktu perjalanan masyarakat menjadi lebih ringan, sekaligus membuka akses hasil alam dari sentra produksi menuju pusat-pusat ekonomi.
Namun, harapan tersebut masih membutuhkan satu tahap penting. Yakni pembangunan permanen.
Pengerasan yang dilakukan saat ini adalah upaya agar masyarakat tidak terus berhadapan dengan lubang dan kerusakan jalan.
Sementara pembangunan permanen diharapkan menjadi jawaban terhadap kebutuhan akses dalam jangka panjang.
Ketika Jembatan Ikut Berbicara
Peninjauan Bupati Al-Farlaky tidak berhenti di badan jalan.
Ia juga melihat kondisi jembatan yang berada di kawasan tersebut.
Perhatian terhadap jembatan menjadi penting karena wilayah Kecamatan Idi Tunong merupakan salah satu kawasan yang terdampak cukup parah akibat banjir.
Bencana tersebut meninggalkan persoalan pada sejumlah fasilitas umum yang membutuhkan penanganan dan perbaikan.
Jalan dan jembatan akhirnya menjadi dua bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Jalan yang diperbaiki tidak akan banyak berarti apabila jembatan pada jalur yang sama tidak mampu mendukung kelancaran akses. Begitu pula sebaliknya.
Karena itu, peninjauan lapangan menjadi bagian penting untuk melihat kebutuhan pembangunan secara utuh—bukan hanya dari satu titik kerusakan, tetapi dari keseluruhan jalur yang digunakan masyarakat.
Menunggu 2027
Bagi pemerintah daerah, pekerjaan hari ini adalah membuka kembali akses.
Bagi masyarakat, harapannya lebih jauh. Yakni jalan yang kokoh dan dapat digunakan dalam waktu panjang.
Rencana pembangunan permanen pada 2027 menjadi titik yang kini ditunggu.
Al-Farlaky berharap seluruh elemen masyarakat ikut mendukung agar rencana tersebut dapat diwujudkan dengan cepat dan berjalan tanpa kendala.
Ia menegaskan, pembangunan tidak diarahkan untuk membandingkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
“Saya tidak membandingkan wilayah manapun. Fokus saya saat ini sedang membangun Kabupaten Aceh Timur ke semua penjuru pelosok. Maka kami berharap masyarakat memberikan dukungan agar capaian pembangunan bisa terwujud,” pungkasnya.
Di ruas Lhok Dalam–Panton Rayeok M, hamparan material base B mungkin baru menjadi sebuah langkah kecil.
Tetapi bagi warga yang selama ini melewati jalan berlubang, langkah itu berarti satu hal. Yakni perjalanan mulai terasa sedikit lebih mudah.
Kini, harapan berikutnya tertuju pada 2027—ketika jalan yang hari ini diperkeras sementara diharapkan benar-benar berubah menjadi akses permanen.
Sebab bagi masyarakat pedalaman, jalan yang baik bukan sekadar tempat kendaraan melintas. Melainkan jalan menuju kehidupan yang bergerak, hasil bumi yang sampai ke pasar, dan denyut ekonomi yang terus menyala.
Reporter : Sutrisno, Kaperwil Aceh, Liputan12.com
