Aceh Tamiang, Liputan12.com — Langit yang masih diselimuti awan kelabu seolah menyimpan kecemasan bagi masyarakat Aceh Tamiang.
Setelah hujan deras mengguyur wilayah Aceh Tamiang dan Kota Langsa sejak Minggu malam, (11/10/2026), hingga Senin dini hari (12/10/2026), genangan air mulai meluas ke permukiman, kebun, jalan kampung, hingga kawasan yang selama ini menjadi tempat tinggal warga.
Di sejumlah titik, air berwarna kecokelatan telah memasuki halaman dan rumah penduduk. Warga mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Barang-barang rumah tangga dikemasi, pakaian diselamatkan, dan sebagian keluarga bergegas mencari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, situasi seperti ini bukan sekadar persoalan air yang menggenangi rumah.
Ada kecemasan yang kembali muncul. Yakni, apakah air akan segera surut, atau justru terus meninggi hingga berubah menjadi banjir bandang seperti yang mereka khawatirkan?.
Kegelisahan tersebut terlihat dari rekaman video yang beredar di media sosial. Di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, air telah menggenangi kawasan perkebunan dan permukiman.
Sebuah kendaraan terlihat melintasi genangan, sementara warga mulai memperhatikan kondisi sekitar dan bersiap mengamankan barang-barang mereka.
Pemandangan serupa juga dilaporkan dari kawasan Hunian Sementara (Huntara) Kampung Sukajadi, Kecamatan Karang Baru. Jalanan mulai terendam, sedangkan sejumlah penghuni terlihat mengemasi barang untuk mengantisipasi kemungkinan harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Lokasi tersebut juga berada tidak jauh dari aliran Sungai Aceh Tamiang.
Di Kampung Rimba Sawang, Kecamatan Tamiang Hulu, banjir turut dilaporkan terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Air yang terus mengalir dari kawasan hulu menjadi perhatian tersendiri. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, debit sungai dapat meningkat dan meluap ke wilayah yang lebih rendah.
Situasi ini membuat warga harus terus memantau perkembangan air, meskipun genangan di sekitar rumah belum terlalu tinggi.
Delapan Kecamatan Terdampak
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, banjir berdampak pada delapan kecamatan, yakni Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, dan Rantau. Dampaknya bervariasi.
Di sejumlah desa, air mulai surut. Namun, di titik lain, genangan masih bertahan, bahkan terus meningkat dan memasuki rumah warga.
Di Kecamatan Tenggulun, banjir di Desa Simpang Kiri dilaporkan terus meningkat hingga memasuki permukiman. Ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter. Sebanyak 50 kepala keluarga (KK) telah mengungsi ke kawasan perkebunan milik warga.
Sementara di Desa Tenggulun, air masih menggenangi pekarangan rumah akibat aliran Sungai Rengas. Sebanyak 30 KK mengungsi di Dusun Damai, sebagian di area perkebunan sawit dan sebagian lainnya di dataran tinggi. Meski demikian, air di wilayah ini dilaporkan mulai berangsur surut.
Kondisi berbeda terjadi di Desa Suka Makmur. Sebagian besar wilayahnya telah terbebas dari genangan. Namun, Dusun Tualang Tukul masih terendam dengan ketinggian air sekitar satu meter. Sebanyak 10 KK masih mengungsi di rumah warga lainnya.
Di Kecamatan Bendahara, banjir mulai menggenangi permukiman Desa Marlempang setelah tanggul sungai dilaporkan putus sepanjang kurang lebih 15 meter.
Banjir juga merendam Desa Balai dengan ketinggian sekitar 20–30 sentimeter. Sebanyak 50 rumah terendam dan 55 KK mengungsi ke rumah kerabat maupun sanak keluarga. Sementara itu, air telah memasuki permukiman Desa Lebuk Batil, meskipun belum ada laporan warga yang mengungsi.
Di Kecamatan Tamiang Hulu, Desa Rongoh menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian serius. Ketinggian air di permukiman dilaporkan mencapai 1,5 meter dan debitnya masih bertambah. Sebanyak 30 KK mengungsi ke Bukit Kandang Ayam dan dataran tinggi Dusun Suka Jaya.
Di Desa Bandar Khalifah, ketinggian air mencapai sekitar satu meter. Sebanyak 150 KK dilaporkan mengungsi, terdiri atas 70 KK di kantor Datok Penghulu dan 80 KK di rumah warga yang berada di dataran tinggi. Sebagian besar air di desa tersebut telah surut. Namun, genangan masih ditemukan, terutama di jalan kampung.
Di Kecamatan Karang Baru, air mulai memasuki permukiman Desa Sukajadi dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter. Warga mulai mengungsi untuk menghindari risiko banjir yang lebih besar.
Sementara di Desa Tanjung Karang, air telah memasuki areal Pesantren Darul Mukhlisin. Hingga laporan diterima, belum ada laporan genangan di permukiman warga.
Di Kecamatan Kejuruan Muda, banjir di Desa Alur Selebu telah surut. Sebagian warga yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke rumah, sedangkan 25 KK lainnya masih bertahan di rumah sanak keluarga.
Adapun di Desa Tanjung Genteng, air dilaporkan telah memasuki permukiman, tetapi belum ada laporan warga yang mengungsi.
Di Kecamatan Bandar Pusaka, debit air di daerah aliran Sungai Kanan dilaporkan terus meningkat hingga meluap ke permukiman penduduk.
Di Desa Babo, air mulai memasuki rumah warga, termasuk sejumlah rumah di Dusun Siderejo. Sebagian jalan lintas juga tergenang.
Dalam laporan BPBD tersebut, belum tercatat adanya warga yang mengungsi dari desa ini.
Sementara itu, air masih menggenangi jalan lintas Desa Batu Badulang, meskipun mulai surut dan belum memasuki rumah warga. Kondisi air di Desa Pengidam dilaporkan masih bertahan.
Di Kecamatan Seruway, banjir di Desa Gelung telah merendam 15 rumah. Warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan selama berada di pengungsian.
Adapun di Kecamatan Rantau, air mulai memasuki kawasan perumahan warga di Desa Alur Manis.
Hingga laporan diperbarui pada Senin pukul 10.00 WIB, kerugian material akibat banjir masih dalam proses pendataan.
Ketika Air Naik, Kecemasan Warga Ikut Meninggi
Bagi masyarakat yang telah berulang kali menghadapi banjir, suara hujan deras dan perubahan warna air sungai dapat memunculkan kembali ingatan tentang bencana sebelumnya.
Mereka tidak hanya memikirkan perabot rumah tangga yang harus diselamatkan, tetapi juga keselamatan anak-anak, orang lanjut usia, anggota keluarga yang sakit, serta kebutuhan dasar apabila terpaksa mengungsi selama beberapa hari.
Keputusan untuk mengemas barang dan meninggalkan rumah bukanlah perkara ringan. Karena rumah merupakan tempat berlindung sekaligus tempat masyarakat menyimpan harta benda dan menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, ketika air terus meningkat, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan apabila hujan kembali turun ketika sungai belum sepenuhnya surut.
Genangan yang sempat berkurang dapat kembali meningkat, terutama di kawasan dataran rendah dan wilayah yang berada dekat aliran sungai.
Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menunggu sampai air memasuki seluruh bagian rumah untuk mulai bersiap. Memantau kondisi sungai, mengenali jalur evakuasi, menyiapkan dokumen penting, serta mengamankan obat-obatan dan kebutuhan dasar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko ketika keadaan memburuk.
Namun, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab warga. Pemerintah dan seluruh unsur penanggulangan bencana memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, bantuan yang dibutuhkan, serta tempat pengungsian yang aman.
Pemkab Aceh Tamiang perlu hadir lebih dekat
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang diharapkan tidak hanya mengandalkan pendataan dan pemantauan, tetapi juga memastikan langkah-langkah perlindungan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan menjangkau seluruh warga terdampak.
Kecamatan dan kampung yang berada di kawasan rawan banjir perlu mendapat perhatian khusus, terutama wilayah yang mengalami kenaikan debit air, tanggul putus, serta permukiman yang sudah terendam hingga lebih dari satu meter.
Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan lokasi pengungsian, ketersediaan makanan, air bersih, perlengkapan tidur, obat-obatan, fasilitas sanitasi, dan kebutuhan khusus bagi bayi, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas.
Di kawasan yang mengalami kerusakan tanggul, pemeriksaan teknis dan langkah penanganan darurat juga perlu diprioritaskan sesuai kondisi lapangan.
Petugas harus memastikan apakah kerusakan berpotensi memperluas genangan dan apakah warga di sekitar lokasi memerlukan evakuasi lebih awal.
Selain itu, jalur komunikasi antara BPBD, camat, Datok Penghulu, perangkat kampung, petugas kesehatan, aparat keamanan, dan masyarakat perlu terus diperkuat.
Informasi mengenai ketinggian air, wilayah yang terancam, lokasi pengungsian, dan jalur yang aman harus disampaikan secara berkala melalui saluran yang mudah dijangkau masyarakat.
Pemerintah daerah juga perlu memberi perhatian terhadap kondisi psikologis warga yang kembali dihantui kekhawatiran akan terjadinya banjir bandang.
Informasi yang jelas, kehadiran petugas di lapangan, dan kepastian mengenai langkah penanganan dapat membantu mengurangi kepanikan.
Masyarakat tidak cukup hanya diminta tetap tenang. Mereka juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan, ke mana harus mengungsi, siapa yang dapat dihubungi, dan bagaimana memperoleh bantuan apabila kondisi memburuk.
BPBD Minta Masyarakat Meningkatkan Kewaspadaan
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, Iman Suhery, S.STP., MSP, meminta seluruh camat meningkatkan pemantauan kondisi wilayah masing-masing serta memastikan informasi mengenai perkembangan banjir disampaikan secara akurat kepada masyarakat.
“Diminta kepada semua camat agar terus dapat memantau kondisi terkini wilayahnya masing-masing. Berikan informasi yang akurat dan pastikan warga tidak panik,” pinta Iman Suhery.
Ia juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan ketinggian air sungai, serta mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi.
Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang benar dan koordinasi antara pemerintah kecamatan, perangkat desa, petugas kebencanaan, serta masyarakat untuk mengantisipasi perkembangan situasi.
Masyarakat juga diingatkan agar mengutamakan keselamatan jiwa, tidak memaksakan diri melintasi jalan yang tergenang atau arus air yang berbahaya, serta segera melaporkan perkembangan banjir kepada perangkat desa maupun petugas terkait.
BPBD Aceh Tamiang bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan, observasi, dan pendataan sebagai bagian dari upaya penanganan banjir.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, dan mengikuti informasi resmi dari petugas.
Jangan Menunggu Sampai Keadaan Memburuk
Dalam situasi banjir, perubahan kondisi dapat berlangsung dengan cepat. Jalan yang sebelumnya masih dapat dilewati bisa menjadi berbahaya ketika arus semakin deras.
Permukiman yang semula hanya digenangi air di halaman juga dapat terendam lebih dalam apabila debit sungai terus meningkat.
Oleh sebab itu, warga yang berada di wilayah rawan perlu memperhatikan tanda-tanda bahaya, termasuk kenaikan air yang berlangsung cepat, arus yang semakin kuat, serta informasi peringatan dari petugas.
Jika diminta mengungsi, masyarakat sebaiknya segera menuju tempat aman dan tidak menunggu sampai akses keluar terputus.
Dokumen penting, obat-obatan, telepon genggam, pengisi daya, pakaian secukupnya, air minum, dan kebutuhan anak-anak dapat disiapkan dalam satu tas darurat.
Listrik di area yang terendam juga perlu diwaspadai. Warga sebaiknya tidak menyentuh peralatan listrik yang basah dan meminta bantuan petugas atau tenaga berwenang untuk mengamankan instalasi apabila diperlukan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai hendaknya tidak mendekati bantaran untuk memantau air dari jarak berbahaya.
Hindari pula menerobos genangan dengan sepeda motor atau mobil apabila kedalaman dan kekuatan arus tidak diketahui.
Bagi warga yang tidak terdampak langsung, kepedulian dapat diwujudkan dengan membantu kelompok rentan, menyebarkan informasi resmi, serta menyalurkan bantuan melalui posko atau pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Informasi yang belum terverifikasi sebaiknya tidak disebarluaskan karena dapat memperkeruh keadaan.
Keselamatan Warga Harus Menjadi Prioritas
Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak boleh berhenti setelah air surut.
Pendataan kerusakan, pemeriksaan tanggul, evaluasi kawasan rawan, perbaikan saluran air, serta penguatan sistem peringatan dini perlu menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang diharapkan menjadikan keselamatan warga sebagai prioritas utama, bukan hanya ketika banjir telah meluas, tetapi juga sejak tanda-tanda peningkatan debit air mulai terlihat.
Pemantauan lapangan harus diikuti dengan tindakan nyata. Apabila kondisi mengharuskan evakuasi, warga perlu memperoleh bantuan transportasi dan tempat berlindung yang layak.
Jika kebutuhan dasar mulai menipis, distribusi bantuan harus dilakukan secara cepat dengan memperhatikan jumlah warga dan tingkat kebutuhan setiap lokasi.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu terus membangun kesiapsiagaan bersama. Perangkat kampung dapat membantu mendata warga yang membutuhkan bantuan khusus, menentukan titik kumpul, mengenali jalur evakuasi, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal ketika pengungsian harus dilakukan.
Banjir bukan semata persoalan air yang menggenangi rumah dan jalan. Di balik setiap genangan, ada keluarga yang mengkhawatirkan keselamatan, mata pencaharian, pendidikan anak-anak, serta masa depan tempat tinggal mereka.
Ketika langit masih mendung dan debit sungai belum sepenuhnya aman, kewaspadaan menjadi kebutuhan bersama. Warga harus tetap tenang tanpa meremehkan risiko, sementara pemerintah dituntut hadir dengan informasi yang jelas, bantuan yang memadai, dan langkah penanganan yang terukur.
Sebab, dalam menghadapi ancaman banjir, yang paling penting bukan hanya seberapa cepat air dapat surut, melainkan seberapa siap seluruh pihak melindungi masyarakat sebelum keadaan berubah menjadi bencana yang lebih besar. **
Reporter : Sutrisno, Kaperwil Aceh, Liputan12.com
