- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dampingi Menhut Raja Juli, Al Haris Tinjau Konservasi Gajah dan Hutan Desa di Jambi

Selasa, 29 September 2026 | 9/29/2026 11:37:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-29T04:37:47Z
Gubernur Jambi Al Haris mendampingi Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni meninjau konservasi gajah Sumatera di Kabupaten Tebo dan pengelolaan hutan desa di Kabupaten Bungo, Selasa (29/9/2026).


Jambi, Liputan12.com – Gubernur Jambi Al Haris mendampingi Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni meninjau sejumlah lokasi konservasi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) serta pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Kabupaten Tebo dan Bungo, Senin (28/9/2026).


Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi konservasi satwa liar sekaligus pengelolaan kawasan hutan yang melibatkan masyarakat. Selain meninjau program konservasi, rombongan juga menyerap aspirasi warga terkait berbagai persoalan yang muncul di sekitar kawasan hutan.


Rangkaian kunjungan diawali dengan peninjauan kawasan konservasi gajah di Kabupaten Tebo. Di lokasi tersebut, Al Haris bersama Raja Juli Antoni melihat langsung aktivitas perawatan gajah, mulai dari penyediaan pakan hingga kegiatan edukasi kepada masyarakat.







Al Haris mengapresiasi upaya para petugas yang selama ini terlibat dalam pemeliharaan dan konservasi gajah Sumatera. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan perawatan satwa, tetapi juga mencakup penyediaan sumber pakan dan edukasi mengenai pentingnya keberadaan satwa dilindungi.


«“Bukan kami cerita, jadi hari ini saya dan Pak Menteri pertama melihat bagaimana teman-teman di Tebo khususnya di kawasan konservasi gajah. Mereka luar biasa merawat gajah-gajah kita dari mulai nanam rumput untuk makanan gajah, merawatnya dan sebagainya bahkan juga ada edukasi-edukasi di situ,” ujar Al Haris.»


Dalam kesempatan itu, persoalan interaksi antara manusia dan gajah juga menjadi perhatian. Menteri Kehutanan turut mendengarkan aspirasi masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi.


Sejumlah warga menyampaikan keluhan mengenai keberadaan dan populasi gajah yang dinilai mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk lahan pertanian. Aspirasi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan satwa dan kepentingan masyarakat.


Dari Kabupaten Tebo, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bungo untuk meninjau kawasan hutan lindung yang dikelola melalui skema hutan desa.


Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Jambi menilai keterlibatan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan hutan dan sumber daya air. Salah satu bentuk kearifan lokal yang mendapat perhatian adalah tradisi Lubuk Larangan, yang menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga sungai dan ekosistem di sekitarnya.


«“Pak Menteri tadi melihat bagaimana warga masyarakat menjaga hutan, menjaga sungai Lubuk Larangan sehingga ini contoh luar biasa. Ke depan kami akan mengajukan desa-desa yang rawan untuk dijadikan hutan desa,” kata Al Haris.»


Menurut Al Haris, pengelolaan hutan berbasis masyarakat dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menjaga kawasan hutan sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.


Selain konservasi gajah dan hutan desa, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan Taman Nasional Berbak, turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.


Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penanganan karhutla di kawasan tersebut dilakukan melalui tim gabungan. Sejumlah langkah telah ditempuh, termasuk penyekatan titik api, operasi water bombing, serta proses pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.


«“Tim sudah ke sana, sudah mulai menyekat api, WB juga jalan terus, sudah mulai proses pendinginan,” ujar Raja Juli.»


Ia menjelaskan, penanganan kebakaran di kawasan Berbak tidak mudah karena karakteristik lahan gambut dan luasnya kawasan yang harus dijangkau petugas.


Pada lahan gambut, api yang terlihat padam di permukaan masih berpotensi menyala kembali di bagian bawah permukaan. Karena itu, proses pemadaman tidak berhenti setelah api terlihat padam, tetapi harus dilanjutkan dengan pendinginan dan pemantauan.


«“Ini lahan gambut ya, bisa saja nanti padam apinya besok muncul lagi. Kesulitannya memang luar biasa luas belantaranya, sehingga kemarin ketika tim ingin masukkan alat ke sana tidak bisa, maka kita coba atur jalur sungai,” kata Raja Juli Antoni.»


Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas konservasi, dan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan, melindungi satwa liar, serta menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.



//Ari ddk//

×
Berita Terbaru Update