Sampang, Liputan12.com — Suasana berbeda terlihat di salah satu pangkalan becak di Kabupaten Sampang, Madura, saat mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, menyempatkan diri bertemu dan berdialog langsung dengan sejumlah pengayuh becak.
Tanpa suasana formal, Anies terlihat mengenakan kemeja putih dan duduk lesehan di atas tikar plastik bersama tokoh masyarakat Sampang, H. Zinol, serta puluhan pengayuh becak. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban.
Secangkir kopi hitam dan sejumlah gorengan menjadi bagian dari suasana pertemuan. Para pengayuh becak duduk melingkar sambil menyampaikan berbagai cerita mengenai kondisi kehidupan sehari-hari mereka.
Dalam dialog tersebut, Anies menekankan pentingnya mendengar pengalaman masyarakat secara langsung sebagai salah satu cara memahami kondisi kehidupan di lapangan.
«“Kalau mau tahu kondisi ekonomi sebenarnya, tanya ke tukang becak, jangan tanya ke laporan di atas meja,” ujar Anies dalam pertemuan tersebut.»
Pernyataan itu disambut tepuk tangan para pengayuh becak yang hadir.
Menurut H. Zinol, pertemuan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dan dialog bersama masyarakat. Ia mengatakan, kehadiran para pengayuh becak dimaksudkan agar suara dan pengalaman mereka dapat didengar secara langsung.
“Kami kumpulkan teman-teman becak bukan untuk dimintai suaranya, tapi untuk didengar suaranya. Mereka inilah yang setiap hari mengayuh hidup di jalanan Sampang,” kata H. Zinol.
Keluhan Harga Sparepart hingga Pendidikan Anak
Dalam dialog yang berlangsung cair, sejumlah pengayuh becak menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Salah satunya Pak Tohir, yang mengungkapkan semakin beratnya biaya perawatan becak akibat harga sejumlah suku cadang yang menurutnya semakin mahal.
Keluhan lain datang dari pengayuh becak terkait pendidikan anak. Mereka menyampaikan harapan agar akses terhadap program beasiswa bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah dapat semakin terbuka.
Berbagai aspirasi tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan dalam dialog. Anies tampak mencatat sejumlah poin yang disampaikan para pengayuh becak menggunakan buku kecil yang dibawanya.
Pertemuan itu tidak berlangsung dalam suasana kaku. Sesekali terdengar gelak tawa ketika para pengayuh becak menceritakan pengalaman mereka sehari-hari.
Anies Naik Becak
Suasana semakin meriah ketika muncul tantangan spontan agar Anies mencoba naik becak.
Anies kemudian duduk di kursi penumpang, sementara H. Zinol mengambil posisi sebagai pengayuh. Momen tersebut sontak mengundang sorakan dan tawa dari para pengayuh becak yang menyaksikan.
Salah seorang pengayuh becak bahkan melontarkan candaan kepada Anies.
«“Awas Pak Anies, jangan ngebut, remnya blong!”»
Ucapan tersebut langsung disambut gelak tawa warga yang berada di lokasi.
Pertemuan kemudian ditutup dengan makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan amplop sedekah kepada sejumlah pengayuh becak.
Sebelum meninggalkan lokasi, Anies menyalami para pengayuh becak satu per satu.
“Becak boleh tua, tapi semangatnya jangan pernah tua,” ujar Anies.
Pertemuan tersebut menjadi ruang interaksi langsung antara tokoh publik dan masyarakat yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalanan. Berbagai persoalan yang disampaikan para pengayuh becak, mulai dari biaya perawatan kendaraan hingga pendidikan anak, menjadi bagian dari percakapan dalam suasana sederhana di pangkalan becak Sampang.
Penulis: Saladin



