- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ditemukan! Korban Tragedi Nelayan Rumli yang Hilang 3 Hari, Jasad Rumli Ditemukan Warga Nelayan Saat Mencari Ikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 7/17/2026 11:29:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-17T04:38:38Z
Jasad Rumli (25 tahun), nelayan dari Dusun Buk Batang, Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah yang hilang selama tiga hari, berhasil ditemukan oleh warga nelayan saat mencari ikan di kawasan laut Kecamatan Pasean pada Jumat pagi (17/07/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Korban hilang saat melakukan aktivitas mencari kepiting bersama tiga rekannya pada Selasa (16/07/2026)."

SampangLiputan12.com – Korban tragedi nelayan yang hilang tiga hari lalu, yakni Rumli (25 tahun) warga Dusun Buk Batang, Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, berhasil ditemukan oleh dua warga nelayan saat mencari ikan di kawasan laut Kecamatan Pasean pada Jumat pagi (17/07/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.

Menurut informasi yang diterima dari pihak keluarga dan rekannya, Rumli hilang saat sedang melakukan aktivitas mencari kepiting bersama tiga rekannya, pada Selasa (16/07/2026). Saat itu, mereka sedang bekerja di perairan sekitar laut pantura, yang dikenal sebagai kawasan produktif untuk menangkap ikan dan kepiting. Namun, tidak lama setelah mereka mulai bekerja, kronologi belum diketahui penyebabnya tiba tiba korban jatuh ke perairan hingga temannya tidak sukses menolong dan korban terhanyut arus lautan.

"Kita sedang fokus mengumpulkan alat jebak kepiting yang telah dipasang beberapa hari sebelumnya, tiba-tiba angin datang dengan sangat kencang dan ombak menghantam perahu kita. Saya dan Rekan berhasil tetap berada di atas perahu, tapi kak Rumli terlempar ke dalam air dan cepat hilang karena ombak yang deras," jelas teman korban dengan suara penuh kesedihan saat menceritakan kejadian tersebut.

Setelah menyadari bahwa Rumli hilang, ke tiga rekannya segera kembali ke darat untuk memberitahu keluarga korban dan masyarakat sekitar. Tidak lama kemudian, ratusan warga dari Desa Tamberu Barat, Tamberu Timur, serta desa-desa sekitar bergabung melakukan upaya pencarian bersama. Mereka menggunakan puluhan perahu nelayan yang siap membantu, mencari ke segala arah lokasi kejadian hingga ke wilayah sekitarnya, dengan penuh harapan menemukan Rumli dalam keadaan selamat. Selama tiga hari berturut-turut, pencarian dilakukan dari pagi hingga menjelang senja, namun tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

Namun, harapan untuk menemukan Rumli dalam keadaan hidup harus sirna ketika Sipul dan Siput, yang kembali ke laut untuk mencari ikan pada pagi hari Kamis, menemukan jasad Rumli yang mengambang di tengah lautan, sekitar dua mil dari pantai Kecamatan Pasean dekat perairan Kecamatan Batumarmar.

"Kami sedang berlayar menuju lokasi penangkapan ikan yang biasa kita datangi, lalu melihat ada sesuatu yang mengambang di kejauhan. Saat kita mendekat, baru menyadari bahwa itu adalah kak Rumli. Kondisinya sudah tidak bernyawa lagi," ujar Siput dengan mata berkaca-kaca.

Setelah menemukan jasad, mereka segera memberitahu pihak keluarga dan kepolisian melalui celuler komunikasi yang dimiliki oleh salah satu perahu nelayan. Tak lama kemudian, tim penyelamat bersama keluarga korban tiba di lokasi untuk mengangkut jasad ke darat. Proses evakuasi dilakukan dengan penuh rasa hormat, dengan didampingi oleh tokoh agama dan masyarakat setempat.

Kabar ditemukannya jasad Rumli segera menyebar ke seluruh Desa Tamberu Barat dan sekitarnya, membuat seluruh warga merasakan duka mendalam. Keluarga korban yang terdiri dari orang tua, istri bernama Siti Aminah, dan dua anaknya yang masih kecil serta berstatus yatim piatu setelah wafatnya Rumli, menerima kabar ini dengan penuh haru dan berkabung dalam kesedihan mendalam.

"Almarhum adalah tulang punggung keluarga kita. Dia selalu bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk memberikan yang terbaik bagi saya dan kedua anak kita. Beliau juga sering membantu tetangga yang kesusahan dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Semoga perjuangannya selama ini tidak sia-sia dan kami akan selalu mengingatnya sebagai sosok yang penuh kasih bagi keluarga dan masyarakat," ujar Ulfa dengan suara yang terengah-engah karena menangis.

Petugas dari Polsek Sokobanah segera melakukan pemeriksaan awal terhadap jasad korban di lokasi kejadian dan setelah diangkut ke rumah duka. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada hal yang mencurigakan dalam kejadian ini, dan kecelakaan dipastikan terjadi akibat kondisi cuaca yang ekstrem dan ombak besar yang menyebabkan korban terjatuh dari perahu. Jasad almarhum kemudian disiapkan untuk proses pemakaman yang akan dilakukan pada hari Jumat (19/07/2026) sesuai dengan adat istiadat dan ajaran agama Islam yang dianut oleh keluarga korban.

Keluarga dan masyarakat Desa Tamberu Barat menyampaikan harapan agar kejadian tragis ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh nelayan di wilayah Sampang untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas di laut, terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung atau ada peringatan akan badai. Mereka juga berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan dukungan yang lebih maksimal, baik dalam bentuk sarana prasarana keselamatan kerja seperti alat komunikasi yang handal, pelampung, maupun edukasi rutin mengenai keselamatan berlayar bagi para nelayan yang setiap hari bergantung pada laut untuk mencari nafkah.

"Kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Nelayan bekerja keras untuk keluarga dan daerah, jadi mereka layak mendapatkan perlindungan dan dukungan yang memadai," ujar Ketua Karang Taruna Desa Tamberu Barat, Naweski.

 

Penulis/Editor: Pimred : Sonhaji

×
Berita Terbaru Update