- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Melestarikan Adat Dan Budaya Leluhur Di Malam 1 Suro

Senin, 15 Juni 2026 | 6/15/2026 10:09:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-15T03:09:37Z

SURABAYA, Liputan12.com – Selasa (15/06/2026) – Ada malam yang sangat sakral bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa: malam Satu Suro. Sementara pergantian tahun Masehi di berbagai penjuru dunia sering diisi dengan pesta meriah dan kembang api yang mencolok, masyarakat yang menghormati tradisi ini punya cara tersendiri dalam menyambut awal tahun baru Jawa – dengan suasana yang hening, syahdu, dan penuh makna mendalam. Ini adalah ritual sakral yang tak hanya sekadar merayakan pergantian tahun, tetapi juga mengajak setiap orang yang percaya untuk menyelami diri sendiri, mengolah batin, dan menyatukan langkah dalam kesunyian yang penuh makna.

Satu Suro, atau tanggal satu bulan Suro dalam penanggalan Jawa, secara astronomis bertepatan dengan tanggal satu Muharram dalam kalender Hijriyah. Namun makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih dalam dari sekadar angka dalam almanak. Bulan Suro diyakini sebagai bulan suci yang menandakan awal babak baru dalam kehidupan, saat yang dipercaya penuh dengan energi spiritual yang dapat membersihkan jiwa dan pikiran. Sejarah mencatat bahwa pada masa Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma merancang sistem penanggalan Jawa yang secara cerdas menggabungkan unsur ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya lokal yang telah ada jauh sebelum itu. Dari konsep yang harmonis ini lahir makna bulan Suro sebagai periode untuk berdiam diri, merenung mendalam, dan membersihkan jiwa dari beban serta dosa yang mungkin telah menumpuk.

Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya, tradisi malam Satu Suro secara tegas menolak segala bentuk hingar-bingar dan kemewahan yang berlebihan. Di malam yang dianggap suci ini, pesta besar-besaran dan perayaan yang ramai dianggap tidak patut dilakukan. Bukan karena adanya larangan resmi, melainkan karena kesadaran mendalam akan nilai-nilai budaya leluhur yang mengajarkan kesederhanaan dan rasa hormat terhadap waktu yang sakral. Masyarakat yang menjalankan tradisi ini memilih untuk menundukkan hati bukan melonjak kegirangan, membersihkan pusaka dan benda-benda berharga yang memiliki nilai sejarah serta budaya, dan dengan khusyu memohon keselamatan serta berkah kepada Allah SWT untuk diri sendiri, keluarga, dan seluruh umat manusia.

Tradisi Satu Suro bukan sekadar warisan leluhur yang hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu. Ia adalah penanda penting bahwa dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh dengan informasi yang meluap, masih ada saat yang patut digunakan untuk berhenti sejenak. Untuk berdiam diri dan merenung. Untuk mendengar suara dari dalam diri yang sering teredam oleh hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, melalui kesunyian dan refleksi dalam malam Satu Suro ini, kita dapat menemukan kejernihan hati, kekuatan batin, serta pemahaman yang lebih dalam tentang makna hidup dan hubungan kita dengan alam semesta serta sesama manusia. Melestarikan tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kita kepada leluhur sekaligus upaya menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa Indonesia.


Saladin 

×
Berita Terbaru Update