- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menjaga Tradisi di Usia 171 Tahun, Desa Wates Gelar Sepekan Gelar Budaya

Jumat, 15 Mei 2026 | 5/15/2026 03:03:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-15T08:03:14Z
Tradisi Munjung Wong Tuwo Jadi Sorotan, Simbol Syukur dan Penghormatan kepada Sesepuh

KUDUS, Liputan12.com – Langit sore Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, dipenuhi suasana hangat dan penuh kebersamaan ketika puluhan warga berkumpul membawa tenong berisi aneka makanan tradisional. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Sepekan Gelar Budaya 2026 yang digelar untuk memperingati sedekah bumi sekaligus Hari Jadi Desa Wates ke-171, yang berlangsung dari tanggal 11 hingga 17 Mei 2026.

Bagi warga Desa Wates, perayaan tahunan ini bukan sekadar acara rutin, melainkan wujud rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Salah satu prosesi yang paling menarik perhatian adalah tradisi Munjung Wong Tuwo, di mana generasi muda menyerahkan tenong dan jajanan tradisional kepada para sesepuh desa. Sebagai balasan, para orang tua memberikan seikat padi sebagai simbol doa, keberkahan, dan harapan bagi generasi penerus.

Kepala Desa Wates, Abdullah Asofii, menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna mendalam bagi masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani. "Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada orang tua. Kami berharap masyarakat selalu mendapatkan doa dan keberkahan," ujarnya.

Menurut Abdullah, penggunaan padi dalam prosesi tidaklah kebetulan. Desa Wates dikenal dengan hamparan sawah yang luas, sehingga kehidupan masyarakat sangat lekat dengan dunia pertanian. "Padi menjadi simbol kehidupan masyarakat kami. Ini juga sebagai pengingat kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan pertanian desa," jelasnya.



Tradisi Munjung Wong Tuwo sendiri rutin digelar setiap bulan Apit dalam penanggalan Jawa. Abdullah menyampaikan bahwa tradisi tersebut sudah ada jauh sebelum dirinya lahir dan terus dilestarikan hingga saat ini. Jika dulu prosesi dilakukan di area makam leluhur desa, kini kegiatan dipusatkan di Taman Padang Bulan agar lebih terbuka dan dapat disaksikan oleh masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua Panitia Pagelaran Kirab Wates, Mohammad Zuhri, menambahkan bahwa rangkaian Sepekan Gelar Budaya tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari khataman Al-Qur'an, sholawat bersama, kirab budaya, pentas barongan, reog, hingga pertunjukan teater rakyat. "Tema tahun ini tetap sedekah bumi dan gelar budaya dalam rangka Hari Jadi Desa Wates ke-171. Intinya bagaimana budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda," katanya.


Kirab budaya diikuti oleh sekitar 30 kelompok yang terdiri dari pemerintah desa, kelompok tani, BUMDes, koperasi desa, RT, RW, hingga berbagai organisasi masyarakat. Menurut Zuhri, perayaan budaya ini bukan sekadar hiburan tahunan semata. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempererat tali persaudaraan antar warga, menjaga identitas desa, sekaligus mewariskan nilai hormat kepada leluhur dan budaya Jawa kepada generasi berikutnya.


Penulis : Tomy 

×
Berita Terbaru Update