KUDUS, liputan12.com – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menghadirkan pendekatan yang segar dan kreatif dalam menyosialisasikan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Berbeda dengan metode konvensional yang sering menggunakan ceramah atau dialog tatap muka, kali ini ia memilih media film yang dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan secara mendalam dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Menurut Lestari, film memiliki kekuatan khusus dalam menyampaikan pesan secara emosional dan kontekstual. Melalui visualisasi cerita yang menarik, nilai-nilai seperti menjaga kelestarian lingkungan, tanggung jawab sosial, serta komitmen terhadap bangsa dan negara dapat tersampaikan dengan lebih kuat dan menyentuh hati penonton.
“Pesan dalam film yang kami putarkan ini sangat relevan dengan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan, mulai dari menjaga alam sebagai bagian dari bhinneka tunggal ika, menjaga komitmen terhadap perjuangan bangsa, hingga menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya saat menghadiri kegiatan di Kudus.
Ia menjelaskan bahwa selama ini sosialisasi nilai kebangsaan memang dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari dialog interaktif dengan komunitas, kegiatan kerja bakti, hingga penyuluhan langsung di sekolah dan kampung. Namun, pendekatan melalui film dinilai lebih menarik dan sesuai dengan karakter generasi muda yang cenderung lebih mudah menyerap informasi melalui media visual.
Selain menyampaikan nilai-nilai kebangsaan, film yang diputar juga mengangkat tema inklusivitas yang menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu tokoh utama dalam film tersebut merupakan penyandang disabilitas yang bahkan terlibat langsung dalam proses produksi. Menurut Lestari, hal ini menjadi bukti konkret bahwa ruang partisipasi harus terbuka lebar bagi semua kalangan tanpa terkecuali.
“Kita ingin menunjukkan bahwa setiap orang, tanpa memandang kondisi fisiknya, memiliki potensi dan hak yang sama untuk berkontribusi dalam membangun bangsa. Ini juga menjadi bagian dari nilai-nilai kebangsaan yang kita jaga,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Lestari juga menyinggung pentingnya edukasi masyarakat terkait pelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Muria yang memiliki keanekaragaman hayati dan bentang alam yang indah. Ia menilai bahwa pemahaman masyarakat tentang kondisi wilayahnya sendiri masih perlu ditingkatkan agar aktivitas sehari-hari maupun usaha ekonomi tidak berpotensi merusak lingkungan.
“Edukasi ini sangat penting agar masyarakat benar-benar memahami kondisi wilayah tempat mereka tinggal. Jangan sampai aktivitas ekonomi yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan justru berdampak destruktif bagi lingkungan dan mengancam keberlangsungan sumber daya alam bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Ia memberikan contoh beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami bencana alam berulang akibat ketidaksesuaian dalam pemanfaatan lahan. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang mampu menjembatani antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian lingkungan.
Sebagai ilustrasi nyata, ia mengisahkan pengalaman di Kabupaten Bojonegoro, di mana sebagian lahan yang sering terdampak banjir tidak lagi digunakan untuk menanam padi seperti biasanya. Sebagai gantinya, masyarakat mulai menanam tanaman alternatif yang lebih tahan terhadap kondisi genangan air, seperti kangkung air atau tanaman obat-obatan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko kerugian bagi petani, tetapi juga tetap memberikan manfaat ekonomi yang signifikan.
Lestari menekankan bahwa solusi terbaik dalam menghadapi tantangan pembangunan adalah dengan mencari jalan tengah melalui edukasi yang berkelanjutan dan pendampingan langsung kepada masyarakat. Dengan cara ini, masyarakat tetap dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada, namun dengan cara yang lebih bijak, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
“Semoga pendekatan kreatif seperti pemutaran film ini dapat terus dikembangkan dan menjadi sarana edukasi yang efektif bagi seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, saya berharap hal ini dapat mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan kelestarian lingkungan yang merupakan warisan kita bersama,” pungkasnya.
Penulis : Tomy
