Surabaya, Liputan12.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel yang melakukan serangan gabungan terhadap Iran semakin memunculkan kekhawatiran akan melonjaknya harga minyak dunia. Kondisi ini dinilai dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama dalam hal ketahanan energi dan stabilitas harga bahan bakar di dalam negeri. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, yang memaparkan skenario potensi dampak yang bakal dihadapi Indonesia.
Dalam penjelasannya, Faisal menilai bahwa konflik yang terjadi memiliki risiko tinggi untuk berlanjut dalam jangka waktu cukup lama. Hal ini dikarenakan Iran merupakan negara dengan kekuatan pertahanan yang kuat dan mampu memberikan perlawanan signifikan. Akibatnya, ketidakpastian geopolitik ini diprediksi akan membuat harga minyak melonjak dari kisaran US$70 per barel yang saat ini berlaku, hingga menembus angka US$80 per barel dalam waktu dekat.
Lebih lanjut Faisal memperingatkan, jika konflik ini memperparah situasi di jalur strategis minyak dunia seperti Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak global, harga minyak bisa melonjak drastis hingga mencapai US$100 per barel. Harga yang sedemikian tinggi belum pernah dicapai dalam beberapa tahun ini sejak rekor kenaikan harga minyak di awal konflik Rusia-Ukraina.
“Jika konflik berlarut, dampak langsung akan sangat dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, yang sangat bergantung pada pasokan minyak global. Lonjakan harga bisa memicu kenaikan harga BBM yang signifikan, terutama untuk jenis BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang sangat banyak digunakan masyarakat kelas menengah ke bawah,” ujar Faisal dalam wawancara dengan media, Minggu (1/3/2026).
Dampak harga minyak yang meningkat tidak hanya menyebabkan penyesuaian harga langsung pada bahan bakar minyak, tetapi juga dapat memperberat anggaran pemerintah yang selama ini harus menanggung subsidi BBM. Jika tidak ada penyesuaian, beban APBN akan membengkak, mempengaruhi kestabilan fiskal dan kemampuan pemerintah dalam menyediakan layanan publik.
Selain itu, Faisal juga mengingatkan bahwa harga energi yang tinggi cenderung merambat ke sektor-sektor lain secara luas, termasuk transportasi dan logistik. Kenaikan biaya logistik ini akan menimbulkan tekanan inflasi pada harga pangan dan berbagai barang konsumsi, yang pada akhirnya dapat memberatkan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejalan dengan itu, Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menambahkan bahwa gejolak geopolitik seperti ini umumnya juga menyebabkan arus modal keluar dari aset-aset berisiko ke aset-safe haven. Hal ini berpotensi memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah yang melemah dan mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) seiring permintaan investor untuk kompensasi risiko yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat memperberat biaya pembiayaan dan investasi di dalam negeri.
“Dampak domino dari gejolak ini selain mendorong biaya produksi dan logistik yang meningkat bagi eksportir, juga dapat menurunkan konsumsi domestik akibat kekhawatiran masyarakat terhadap inflasi yang terus naik,” jelas Syafruddin.
Menanggapi potensi dampak yang sangat luas ini, para ekonom sepakat bahwa pemerintah harus mengambil langkah antisipatif yang strategis dan terpadu. Upaya yang disarankan meliputi memperkuat stabilisasi pangan sebagai bagian penting dari pengendalian inflasi, meningkatkan kesiapan logistik nasional agar tidak terdampak gangguan harga energi, serta menjalankan diplomasi ekonomi secara intensif guna menekan eskalasi konflik dan memastikan kelancaran jalur perdagangan internasional.
“Selain itu, pengelolaan cadangan energi strategis dan ketersediaan pangan perlu diperkuat agar dampak kenaikan harga tidak langsung mengarah pada ketidakstabilan sosial dan ekonomi yang lebih berat,” tambah Syafruddin.
Dalam situasi penuh tantangan ini, masyarakat, pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan tetap waspada dan adaptif menghadapi dinamika yang berkembang, sementara pemerintah diharapkan mampu sigap menyiapkan dan menerapkan kebijakan mitigasi yang menyeluruh dan efektif.
Kendati dunia sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik global, upaya bersama yang solid antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat diyakini mampu menjaga stabilitas ekonomi dan meminimalisasi dampak negatif, sekaligus melanjutkan momentum pemulihan pertumbuhan nasional.
Dengan strategi penanganan yang tepat, Indonesia dapat tetap menjaga ketahanan energi, melindungi daya beli masyarakat, dan mempertahankan keberlangsungan pembangunan nasional di tengah gejolak global yang semakin dinamis dan kompleks.
#Redaksi
