- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jelajahi Lembaran Sejarah Sampang: Dari Epos Jokotole Hingga Pengakuan Hari Jadi Kabupaten, Sebuah Perjalanan Panjang Peradaban

Kamis, 05 Februari 2026 | 2/05/2026 05:09:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-05T10:09:50Z

SAMPANG, Liputan12.com - Kabupaten Sampang, permata yang berkilauan di Pulau Madura, Jawa Timur, bukan sekadar hamparan geografis, melainkan sebuah entitas yang kaya akan narasi masa lalu. Sejarah panjang dan berliku Sampang tidak hanya terpahat dalam artefak dan monumen, namun juga terukir dalam denyut nadi budaya, tradisi lisan, dan memori kolektif masyarakatnya.

Terletak strategis di antara 113° 08'–113°39' Bujur Timur dan 6°05'–7°13' Lintang Selatan, dengan luas wilayah mencapai 1.233,30 km², Sampang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Madura. Berbatasan dengan Bangkalan di barat dan Pamekasan di timur, Sampang sejak lama menjadi persimpangan jalur perdagangan dan budaya, tempat bertemunya berbagai pengaruh dan gagasan.


Asal-Usul Nama "Sampang": Epos Jokotole dan Simbol Persinggahan

Nama "Sampang" sendiri menyimpan pesona tersendiri, berakar dari kisah heroik tokoh legendaris Madura, Jokotole. Dipercayai bahwa nama tersebut berasal dari frasa bahasa Madura, "e’sempange," yang bermakna "tempat yang dilewati." Epos ini mengisahkan perjalanan Jokotole dan pendamping setianya melintasi wilayah tersebut dalam penjelajahan mereka dari utara ke selatan Pulau Madura. Wilayah yang kerap menjadi oase peristirahatan ini kemudian diabadikan sebagai "Sampang," sebuah nama yang terus bergema hingga hari ini.

Selain epos Jokotole, terdapat pula interpretasi lain yang mengaitkan nama Sampang dengan kata "Sampangan," yang merujuk pada lokasi singgah atau persimpangan jalan bagi masyarakat Madura di masa lampau. Terlepas dari validitas historisnya, legenda-legenda ini tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Sampang, sebuah pengingat akan masa lalu yang membentuk masa kini.


Jejak Peradaban Kuno: Padepokan Agama Buddha di Abad ke-7 dan Simbolisme Syiwaisme

Jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan megah di Madura, wilayah Sampang telah menjadi tempat bersemi peradaban. Jejak permukiman kuno terungkap melalui temuan "Candra Sangkala" di situs sumur Daksan, Kelurahan Dalpenang, yang mengindikasikan keberadaan komunitas religius Buddha sejak abad ke-7 Masehi (sekitar tahun 835 M).

Candra Sangkala yang berbunyi "Kudok Alih Ngrangsang Ing Buto" ini merujuk pada tahun 757 Saka atau 835 Masehi. Kendati temuan ini tidak didukung oleh prasasti yang mendetail, keberadaannya memberikan petunjuk tentang aktivitas masyarakat pada masa itu, di mana komunitas religius dipimpin oleh seorang "resi" yang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha.

Selain itu, jejak peradaban kuno juga ditemukan di situs bujuk Nandi, Desa Kemuning, Kecamatan Kedundung. Di sana, Candra Sangkala berbunyi "Nagara Gata Bhuwana Agong," yang merujuk pada tahun 1301 Saka atau 1379 Masehi. Temuan ini mengindikasikan keberadaan kelompok masyarakat yang mempraktikkan ajaran Syiwaisme, yang ditandai dengan pembangunan candi dan penggunaan simbol lembu (nandi) sebagai wahana Dewa Siwa.

Pengaruh Majapahit dan Transisi ke Mataram Islam: Transformasi Kekuasaan dan Identitas

Pada era kejayaan Kerajaan Majapahit, pengaruh imperium ini juga merambah wilayah Sampang. Kehadiran Kerajaan Majapahit terkonfirmasi melalui temuan Candra Sangkala di situs Pangeran Bangsacara Takobuh, Kelurahan Polagan, yang merujuk pada tahun 1305 Saka atau 1383 Masehi. Temuan ini menandakan berdirinya sebuah candi Buddha dengan relief yang mengisahkan cerita Pangeran Bangsacara Ragapadmi, yang sarat akan pesan moral dan religius.

Memasuki abad ke-14 Masehi, tampuk kepemimpinan wilayah ini beralih ke tangan Ario Lembu Peteng, raja Madura pertama yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya V. Setelahnya, kerajaan Madura diperintah secara bergantian oleh Ario Menger, Ario Patikal, Nyai Ageng Boedo, dan Kiai Demong.

Pada masa pemerintahan Kiai Demong (1531-1623 M), pusat pemerintahan kerajaan Madura dipindahkan dari Madegan Polagan Sampang ke Pelakaran Arosbaya Bangkalan. Namun, pada tahun 1623 M, ketika Kerajaan Mataram berhasil menaklukkan Madura, pusat pemerintahan dikembalikan ke Madegan Polagan Sampang, menandai era baru di bawah kendali Mataram Islam.

Kiai Demong, sebagai salah satu penguasa keturunan Majapahit yang telah memeluk agama Islam, mewariskan tongkat estafet kepemimpinan kepada Panembahan Lemah Duwur (1531-1592), sang pendiri masjid Madegan Polagan Sampang. Panembahan Lemah Duwur dikenang sebagai pemimpin yang meletakkan fondasi kepemimpinan Islam di Madura, khususnya di wilayah Sampang.


Cakraningrat I dan Penetapan Hari Jadi Sampang: Titik Balik Menuju Pemerintahan yang Terlegitimasi

Momen krusial dalam sejarah Sampang terjadi ketika Raden Praseno, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Cakraningrat I (1624-1648), diangkat menjadi raja Madura Barat oleh Sultan Agung, penguasa Mataram. Pengangkatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 1624 M, sebuah tanggal yang diabadikan sebagai hari jadi Kabupaten Sampang.

Pengangkatan Raden Praseno sebagai raja Mataram di wilayah Madura Barat bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah titik balik yang menandai berdirinya pemerintahan yang sah secara yuridis dan de facto. Momentum ini, yang diakui dalam berbagai literatur sejarah, menjadi pijakan bagi perkembangan Sampang sebagai entitas politik dan sosial yang terlegitimasi.


Kesimpulan: Warisan Sejarah yang Membentuk Identitas Sampang

Dengan demikian, sejarah Kabupaten Sampang adalah mosaik yang terdiri dari berbagai elemen, mulai dari legenda heroik Jokotole, jejak peradaban kuno, pengaruh kerajaan-kerajaan besar, hingga penetapan hari jadi kabupaten. Seluruh elemen ini berpadu membentuk identitas Sampang yang unik dan kaya, sebuah warisan berharga yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakatnya. Perjalanan panjang peradaban Sampang menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus membangun dan memajukan daerah ini, berlandaskan pada nilai-nilai sejarah dan budaya yang telah diwariskan.


#Redaksi

×
Berita Terbaru Update