Tanjung Jabung Timur, Liputan12.com – Maraknya dugaan pencurian hasil tangkapan serta tindakan perusakan terhadap alat tangkap kelong/belat di kawasan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mulai menimbulkan keresahan di kalangan nelayan. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu aktivitas masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut.
Keresahan ini khususnya dirasakan para nelayan di Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Mereka mengeluhkan dugaan aksi pencurian hasil tangkapan yang terjadi pada kelong atau belat, baik yang menggunakan konstruksi terapung maupun yang dipasang secara permanen di perairan pesisir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan12.com dari unggahan media sosial Facebook dan komunikasi melalui Messenger dengan salah seorang sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, dugaan pencurian tersebut dialami oleh dua nelayan, yakni Bapak Bali dan Bapak Welleng.
Keduanya dikabarkan mengalami kehilangan hasil tangkapan selama dua hari berturut-turut. Peristiwa tersebut baru diketahui ketika pemilik kelong/belat turun langsung ke lokasi untuk mengambil hasil tangkapan sebagaimana aktivitas rutin mereka.
Namun, alih-alih mendapatkan hasil jerih payah dari aktivitas melaut, para nelayan justru mendapati hasil tangkapan yang sebelumnya diharapkan sudah raib. Ikan-ikan yang tersisa disebut hanya berukuran kecil, sementara hasil tangkapan yang bernilai ekonomis diduga telah diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kondisi ini tentu menjadi pukulan bagi nelayan kecil. Sebab, pemasangan dan pemeliharaan kelong/belat membutuhkan tenaga, waktu, serta biaya yang tidak sedikit. Ketika hasil tangkapan diduga dicuri, kerugian yang dialami bukan hanya sebatas hilangnya ikan, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan dan keberlangsungan ekonomi keluarga nelayan.
Lebih jauh, apabila dugaan pencurian maupun perusakan alat tangkap tersebut terus berulang tanpa penanganan, situasi ini berpotensi menimbulkan rasa tidak aman di kalangan masyarakat pesisir.
Nelayan Minta Perhatian dan Tindakan Nyata
Para nelayan Desa Labuhan Pering berharap pemerintah desa, pemerintah kecamatan, instansi terkait, serta aparat penegak hukum memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut.
Mereka menginginkan adanya langkah konkret untuk menciptakan keamanan di kawasan perairan tempat masyarakat menjalankan aktivitas penangkapan ikan. Pengawasan dan patroli di titik-titik rawan pencurian dinilai penting agar para nelayan dapat bekerja dengan tenang tanpa dihantui kekhawatiran kehilangan hasil tangkapan.
Selain itu, apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam tindakan pencurian maupun perusakan alat tangkap, masyarakat berharap persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Nelayan bukan sekadar mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik aktivitas mereka di tengah perairan, terdapat tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.
Karena itu, keamanan kelong/belat dan perlindungan terhadap hasil tangkapan menjadi persoalan penting yang tidak boleh diabaikan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari aparat berwenang mengenai laporan maupun penanganan dugaan pencurian tersebut. Identitas pelaku dan motif kejadian juga belum diketahui secara pasti.
Liputan12.com membuka ruang konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah setempat dan aparat penegak hukum, guna memperoleh penjelasan serta memastikan langkah penanganan atas keresahan yang dialami nelayan Desa Labuhan Pering.
Jangan Biarkan Nelayan Berjuang Sendiri
Masyarakat pesisir berharap laut tetap menjadi sumber penghidupan, bukan tempat yang justru menghadirkan ketakutan akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.
Keamanan nelayan harus menjadi perhatian bersama. Sebab, melindungi hasil kerja nelayan berarti turut menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.
Penulis: Syam
LIPUTAN12.COM

