- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Pesta Panen, Seren Taun ke-658 Kasepuhan Gelar Alam Teguhkan Pesan Leluhur

Senin, 05 Oktober 2026 | 10/05/2026 12:03:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-04T17:03:57Z
Bukan sekadar pesta panen, Seren Taun ke-658 Kasepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (4/10/2026), menjadi peneguh pesan leluhur tentang hubungan manusia, alam, dan identitas budaya Sunda yang bertahan lebih dari enam abad.


Sukabumi, Liputan12.com — Gemuruh Dog-dog Lojor dan Gondang Buhun menggema di tengah kawasan adat Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Ribuan warga dan pengunjung larut dalam suasana khidmat sekaligus meriah saat puncak Upacara Adat Seren Taun ke-658 digelar, Minggu (4/10/2026).


Bukan sekadar pesta menyambut hasil panen, Seren Taun menjadi ruang untuk kembali mengingat pesan leluhur, merawat hubungan manusia dengan alam, sekaligus meneguhkan identitas budaya masyarakat adat Sunda yang diwariskan lintas generasi.


Tahun ini, rangkaian kegiatan mengusung tema “Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Alam Nu Bakal Datang”. Pesan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak hanya menoleh pada perjalanan masa lalu, tetapi juga mampu membaca tantangan dan menyiapkan kehidupan untuk masa yang akan datang.





Tradisi yang telah berlangsung selama 658 tahun itu kembali memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat tetap hidup di tengah perubahan zaman.


Puncak kegiatan turut dihadiri Bupati Sukabumi H. Asep Japar (Asjap) bersama Wakil Bupati H. Andreas, jajaran Forkopimda, Forkopimcam Cisolok, serta tokoh masyarakat dan warga adat Kasepuhan Gelar Alam.


Kehadiran jajaran pemerintah daerah dalam prosesi tersebut berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Pejabat dan masyarakat adat mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang diwariskan para leluhur.


Salah satu prosesi utama adalah Angkat Ampih Pare Ka Leuit, yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan terhadap padi sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat.





Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan sarasehan bersama Baris Olot Kasepuhan, yang menghadirkan pesan-pesan kearifan leluhur dan menjadi ruang untuk merefleksikan keberlanjutan adat di tengah perkembangan zaman.


Kemegahan budaya juga terlihat dalam berbagai pertunjukan tradisional. Iring-iringan Dongdang, atraksi Debus, dentuman Lisung, pertunjukan Rengkong, hingga Tari Tani turut menyemarakkan rangkaian Seren Taun.


Setiap pertunjukan bukan sekadar hiburan. Di baliknya terdapat simbol, sejarah, dan nilai kehidupan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Kasepuhan Gelar Alam.


Bupati Sukabumi H. Asep Japar menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi masyarakat adat dalam mempertahankan warisan budaya tersebut.





«“658 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ini bukti keteguhan yang luar biasa. Masyarakat Gelar Alam sangat konsisten dan cinta terhadap warisan leluhurnya. Ini yang harus kita jaga bersama,” ujar Asep Japar di hadapan masyarakat.»


Menurutnya, Seren Taun memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar seremoni tahunan. Tradisi tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, termasuk nilai ketahanan pangan dan jati diri budaya Sunda.


Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pelestarian Kasepuhan Gelar Alam. Salah satu langkah yang disampaikan adalah mendorong Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional, sekaligus mengembangkan kawasan tersebut sebagai salah satu destinasi wisata budaya.


Sementara itu, Ketua Adat Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.


“Alhamdulillah, semua berjalan lancar berkat dukungan semua pihak,” ungkap Abah Ugi.


Antusiasme juga datang dari pengunjung yang sengaja hadir dari luar daerah. Salah satunya Noni (34), wisatawan asal Jakarta, yang mengaku terkesan menyaksikan langsung tradisi masyarakat adat tersebut.


“Jujur merinding. Bangga melihat di Sukabumi masih ada kampung adat yang kuat menjaga budaya Sunda. Keren sekali Gelar Alam,” tuturnya.


Seren Taun ke-658 Kasepuhan Gelar Alam akhirnya bukan hanya menjadi catatan tentang sebuah pesta panen. Lebih jauh, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa warisan leluhur dapat tetap hidup ketika dijaga bersama, diwariskan kepada generasi berikutnya, dan dimaknai sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.


Dari Sirnaresmi, pesan itu kembali terdengar: menengok perjalanan masa lalu bukan untuk berhenti di sana, tetapi menjadi bekal untuk menatap masa depan.




Penulis: Ajid Alvaro

×
Berita Terbaru Update