Jakarta, Liputan12.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar Amerika Serikat dilibatkan secara aktif dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran berikutnya yang akan menggantikan Ali Khamenei. Dalam pernyataannya yang dilansir Al-Jazeera pada Jumat (6/3/2026), Trump menegaskan bahwa keterlibatan AS sangat penting demi kemunculan sosok pemimpin baru di Iran yang dinilai lebih bersahabat dan kooperatif dengan Amerika Serikat.
Trump juga menolak kemungkinan pengangkatan Mojtaba, putra Ali Khamenei, sebagai pengganti ayahnya. Ia menyebut Mojtaba sebagai sosok yang tidak memiliki pengaruh signifikan di dalam peta kekuasaan politik di Iran. “Mereka hanya membuang-buang waktu jika memilihnya. Putra Khamenei itu bukan sosok yang berpengaruh,” tuturnya.
Lebih lanjut, Trump mengungkapkan keinginannya melihat pemimpin Iran baru yang serupa dengan Delcy Rodriguez, pemimpin yang menggantikan Nicolas Maduro di Venezuela setelah intervensi militer AS di negara tersebut. Trump memuji Rodriguez karena dinilai telah bekerja cukup baik dalam menerima kebijakan pro-Amerika, seperti mengizinkan penjualan minyak Venezuela ke Amerika Serikat dan memutus pasokan minyak ke Kuba di bawah ancaman serangan AS.
Namun demikian, konteks Iran dan Venezuela sangat berbeda. Pemilihan pemimpin tertinggi di Iran merupakan urusan internal yang diatur secara ketat oleh konstitusi Republik Islam Iran. Proses penting ini harus melalui Majelis Ahli, yakni dewan ulama dan cendekiawan agama yang berkualifikasi dan memiliki legitimasi tinggi. Standar ini bukan hanya normal di Iran, tetapi menjadi elemen utama agar pemimpin yang terpilih dapat menjalankan peran spiritual dan politik secara efektif.
Selain itu, situasi geopolitik Iran yang saat ini tengah berkonflik dengan Amerika Serikat dan Israel sangat kompleks dan sarat risiko, sehingga keterlibatan pihak asing dalam proses internal pemilihan pemimpin berpotensi menimbulkan ketegangan yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Trump ini pun menimbulkan reaksi dan perhatian serius baik di kancah internasional maupun dalam dinamika geopolitik regional. Negara-negara di kawasan serta komunitas internasional memantau dengan seksama bagaimana perkembangan hubungan antara Washington dan Tehran, khususnya menyikapi langkah-langkah Amerika Serikat yang dianggap mengintervensi urusan dalam negeri Iran.
Keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran menjadi topik kontroversial yang mengundang beragam interpretasi dan kecaman dari berbagai kalangan. Pemerintah Iran dan mayoritas rakyatnya kemungkinan besar akan menolak keras campur tangan asing dalam isu fundamental tersebut, mengingat keinginan mempertahankan kedaulatan dan independensi negara menjadi harga mati bagi Republik Islam Iran.
Sementara itu, pernyataan Trump juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kebijakan Amerika Serikat ke depan akan berlanjut dalam menghadapi Iran, apakah dengan pendekatan intervensi langsung atau diplomasi, sembari menunggu masa transisi kepemimpinan tertinggi di Tehran. Isu ini diperkirakan akan terus menjadi fokus utama dalam dinamika hubungan bilateral AS-Iran dan memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
#Redaksi
