- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ramadhan 1447 H Semakin Dekat: Menanti Kepastian Awal Puasa, Intip Prediksi NU dan Mekanisme Penetapan di Indonesia

Selasa, 17 Februari 2026 | 2/17/2026 01:05:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-17T06:05:53Z

Sampang, Liputan12.com – Kerinduan umat Muslim di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, akan hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah kian membuncah. Gema takbir dan lantunan ayat suci Al-Qur'an seakan sudah terngiang di telinga, membangkitkan semangat untuk menyambut bulan penuh berkah dan ampunan. Seiring dengan semakin dekatnya waktu tersebut, pertanyaan mendasar pun muncul: kapan sebenarnya ibadah puasa akan dimulai?

Masyarakat pun mulai mencari informasi mengenai perkiraan jadwal awal Ramadhan 2026 sebagai bekal persiapan diri, baik secara spiritual dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, maupun secara logistik dengan mempersiapkan kebutuhan sehari-hari selama bulan puasa.

Salah satu sumber informasi yang tak luput dari perhatian adalah prediksi yang dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jutaan pengikut setia. Namun, penting untuk diingat bahwa perkiraan yang dikeluarkan oleh NU masih bersifat sementara dan belum merupakan ketetapan resmi yang mengikat.

Prediksi ini sejatinya hanyalah gambaran awal yang membantu masyarakat untuk mendapatkan bayangan mengenai kemungkinan waktu dimulainya ibadah puasa Ramadhan. Keputusan final dan mengikat tetap berada di tangan pemerintah, yang akan menetapkannya melalui mekanisme sidang isbat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, bersabar, dan terus mengikuti perkembangan informasi terkini dari sumber-sumber yang terpercaya dan kredibel.

 

Menjelajahi Almanak NU: Mengintip Prediksi Awal Ramadhan 1447 H

Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama secara resmi belum mengumumkan tanggal pasti dimulainya ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah. Sebagaimana yang dilansir dari berbagai sumber berita terpercaya, NU senantiasa mengikuti keputusan pemerintah yang ditetapkan melalui sidang isbat yang diselenggarakan secara rutin oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sebagai bagian dari komitmennya untuk turut serta dalam menentukan awal bulan Ramadhan, NU secara aktif melakukan rukyatul hilal atau pemantauan hilal di berbagai lokasi strategis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan secara visual terlihat atau tidaknya hilal, yaitu bulan sabit muda yang menjadi penanda awal bulan baru dalam kalender Hijriah.

Sembari menanti hasil pengamatan langsung di lapangan, masyarakat dapat mengintip perkiraan awal yang tercantum dalam almanak internal organisasi NU. Berdasarkan perhitungan astronomi yang cermat, diperkirakan bahwa awal puasa Ramadhan 1447 H akan bertepatan dengan hari Kamis, 19 Februari 2026. Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa tanggal ini masih bersifat tentatif dan sangat mungkin mengalami perubahan. Kepastian akhir akan sangat bergantung pada hasil rukyatul hilal yang akan dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia.

Perubahan tanggal sangat mungkin terjadi mengingat proses pengamatan hilal merupakan aktivitas yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan kondisi atmosfer di lokasi pemantauan. Keberadaan awan tebal atau polusi udara dapat menghalangi pandangan mata, sehingga hilal sulit untuk dilihat. Apabila hilal berhasil terlihat dengan jelas dan memenuhi kriteria visibilitas yang telah ditetapkan oleh para ahli falak, maka tanggal tersebut dapat langsung dikonfirmasi sebagai awal Ramadhan. Namun, jika hilal tidak terlihat karena faktor cuaca atau alasan lainnya, maka penetapan awal Ramadhan dapat bergeser satu hari. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk bersabar, tidak tergesa-gesa, dan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.


Memahami Mekanisme Penetapan Awal Ramadhan di Indonesia: Antara Hisab dan Rukyatul Hilal

Penetapan resmi awal Ramadhan di Indonesia dilakukan melalui sebuah proses yang transparan dan akuntabel, yaitu sidang isbat. Sidang isbat ini akan diselenggarakan pada hari Selasa, 17 Februari 2026 di Jakarta, bertempat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan jadwal yang dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Sidang isbat merupakan forum penting yang akan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Dalam forum ini, akan dipertimbangkan secara seksama berbagai masukan dan informasi yang relevan, termasuk laporan hasil rukyatul hilal yang dihimpun dari berbagai titik pengamatan di seluruh pelosok Indonesia, serta hasil perhitungan astronomi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam proses penetapan awal Ramadhan, terdapat dua metode utama yang menjadi landasan pertimbangan, yaitu hisab dan rukyatul hilal. Hisab berperan sebagai dasar perhitungan ilmiah yang memprediksi posisi bulan secara matematis, berdasarkan data-data astronomi yang telah teruji keakuratannya. Sementara itu, rukyatul hilal dilakukan dengan mengamati secara langsung kemunculan hilal, yaitu bulan sabit muda yang sangat tipis dan hanya dapat dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyatul hilal dilakukan di sejumlah lokasi pemantauan yang telah ditentukan secara strategis di berbagai wilayah Indonesia, dengan melibatkan para ahli falak dan petugas yang terlatih.

Hasil pengamatan hilal dari berbagai daerah akan dikumpulkan, diverifikasi, dan dibahas secara seksama dalam sidang isbat. Apabila hilal berhasil terlihat dengan jelas dan memenuhi kriteria visibilitas yang telah ditetapkan oleh para ahli falak, maka pemerintah akan menetapkan keesokan harinya sebagai tanggal 1 Ramadhan, yang menandai dimulainya ibadah puasa. Pengumuman resmi mengenai penetapan awal Ramadhan biasanya disampaikan kepada publik pada malam hari setelah sidang isbat selesai, melalui konferensi pers yang disiarkan secara langsung oleh berbagai media massa.

Dengan memahami mekanisme penetapan awal Ramadhan yang transparan dan akuntabel ini, diharapkan masyarakat dapat semakin yakin dan percaya terhadap keputusan yang diambil oleh pemerintah. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat senantiasa mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan organisasi Islam terpercaya, serta menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan.

Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang membara untuk meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, serta menjadikan Ramadhan ini sebagai bulan yang penuh berkah, ampunan, dan keberkahan. Aamiin ya rabbal alamin.


#Redaksi

×
Berita Terbaru Update