SAMPANG, Liputan12.com - Menyambut bulan suci Ramadan yang penuh berkah, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang mengambil langkah proaktif dengan memberikan edukasi intensif kepada masyarakat terkait batas waktu sahur. Hal ini dilakukan untuk meluruskan kesalahpahaman yang sering terjadi dan memastikan umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan pemahaman yang benar dan khusyuk.
Khatib Syuriyah PCNU Sampang, Mahrus Zamroni, menjadi garda terdepan dalam upaya ini. Beliau menegaskan bahwa batas waktu puasa yang sebenarnya adalah saat terbit fajar, bukan saat imsak seperti yang selama ini dipahami oleh sebagian masyarakat.
"Polemik tentang imsak ini seringkali menimbulkan kebingungan di masyarakat. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk memberikan penjelasan yang lebih detail dan komprehensif. Yang terpenting adalah substansi waktu fajar itu sendiri," ujar Mahrus Zamroni pada Kamis, 12 Februari 2026.
Dalam penjelasannya, Mahrus merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang mengisahkan tentang momen sahur bersama Zaid bin Tsabit. Setelah selesai sahur, Nabi langsung menunaikan salat Subuh dengan jarak waktu yang diperkirakan setara dengan membaca 50 ayat Al-Quran.
"Para ulama kemudian melakukan kajian dan memperkirakan durasi waktu tersebut sekitar 10 menit. Perhitungan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan jadwal imsakiyah sebagai langkah preventif," paparnya.
Mahrus Zamroni juga mengutip literatur fikih yang menjelaskan bahwa jika seseorang masih memiliki sisa makanan di dalam mulut saat fajar terbit, maka makanan tersebut wajib dikeluarkan. Hal ini semakin mempertegas bahwa batas akhir sahur adalah saat fajar menyingsing.
Meski demikian, Mahrus mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan pentingnya waktu imsak. Imsak tetap berfungsi sebagai pengingat awal agar umat Muslim memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghentikan segala aktivitas makan dan minum sebelum tiba waktu Subuh.
"Tujuannya adalah agar saat azan Subuh berkumandang, kita sudah benar-benar berhenti dari segala hal yang membatalkan puasa," tegasnya.
Mahrus menambahkan, secara ilmiah terbitnya fajar dapat dikenali dengan munculnya cahaya putih di ufuk timur. Tanda alamiah inilah yang menjadi acuan utama dalam menentukan masuknya waktu Subuh.
"Kami berharap, dengan penjelasan yang komprehensif ini, masyarakat dapat memiliki pemahaman yang benar tentang batas waktu sahur dan menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan penuh keberkahan," pungkasnya.
PCNU Sampang berharap, melalui edukasi yang berkelanjutan, masyarakat dapat terhindar dari kesalahpahaman dan menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan agama Islam. Selain itu, PCNU Sampang juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyemarakkan bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan positif yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
#Redaksi
