- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

HPN 2026 di Sampang Memanas! Kritikan Pedas Menohok Pers Lokal: Degradasi Moral dan Krisis Identitas!

Kamis, 12 Februari 2026 | 2/12/2026 11:48:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-12T05:16:48Z

SAMPANG, Liputan12.com - Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Sampang tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alih-alih dirayakan dengan gegap gempita dan sanjungan manis, momentum ini justru menjadi ajang kritik pedas terhadap kondisi pers lokal yang dinilai mengalami degradasi moral dan krisis identitas.

Fathor Rahman (Mamang), Penasehat PWI Sampang sekaligus Ketua Media Center Sampang (MCS), tanpa tedeng aling-aling melontarkan kritiknya dalam forum resmi di Aula Pemkab Sampang, Rabu (11/02/2026). Ia menyebut bahwa wajah pers saat ini, khususnya di Sampang, telah jauh menyimpang dari khitah awalnya sebagai pilar demokrasi dan kontrol sosial.

Dalam rapat koordinasi persiapan Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H tersebut, Mamang mengingatkan para pemangku kebijakan dan insan pers agar tidak terjebak dalam hubungan transaksional yang dangkal dan merugikan independensi media.

"Jangan sampai pers hanya dihargai saat dibutuhkan saja, seperti halnya pemadam kebakaran. Dibutuhkan untuk memadamkan isu, lalu dikesampingkan saat kepentingan usai," tegas Mamang di hadapan para peserta rapat. Sindiran ini jelas menggambarkan bagaimana pers seringkali hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk kepentingan sesaat.

Mamang, yang telah malang melintang di dunia jurnalistik sejak tahun 2008, menyoroti fenomena memprihatinkan di mana profesi wartawan seolah menjadi "pelarian pekerjaan" bagi sebagian orang. Ia menyentil banyaknya oknum yang terjun ke lapangan hanya berbekal keberanian bicara dan penampilan menarik, namun minim wawasan dan bahkan buta terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Kondisi ini menurut Mamang berdampak sangat buruk bagi kualitas jurnalisme dan kredibilitas pers secara keseluruhan. Akibat rendahnya standar kompetensi, pers menjadi kehilangan taji sebagai pengawas kekuasaan dan mudah dikooptasi oleh kepentingan sektoral.

"Pers menjadi mudah dikooptasi oleh kepentingan sektoral karena kurangnya idealisme dan integritas," ungkapnya.

Selain itu, jurnalis tidak lagi disegani karena integritasnya, melainkan hanya dianggap sebagai instrumen pelengkap yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Bahkan, tak jarang ditemukan oknum pers yang justru terlibat dalam pusaran masalah, alih-alih mengontrol kekuasaan.

Menyikapi kondisi ini, Mamang menegaskan bahwa peningkatan kapasitas melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan penguatan literasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan mutlak. Tanpa idealisme yang kuat dan profesionalisme yang mumpuni, berita hanya akan menjadi alat propaganda yang kehilangan ruh kebenaran.

"Hanya dengan profesionalisme yang mumpuni, pers akan kembali dihormati. Bukan karena ditakuti atau dibutuhkan secara transaksional, tapi karena perannya dalam menjaga keadilan dan kebenaran," pungkasnya dengan nada serius.

Peringatan HPN 2026 di Sampang kali ini menjadi tamparan keras bagi seluruh insan pers. Jika pers tidak segera berbenah diri dan membersihkan diri dari oknum-oknum yang merusak marwah profesi, maka kepercayaan publik akan terkubur selamanya dan pers akan kehilangan relevansinya sebagai pilar demokrasi. HPN kali ini menjadi momentum krusial bagi pers Sampang untuk introspeksi, berbenah, dan kembali kepada khitah asalnya sebagai penjaga kebenaran dan keadilan.


(Sal)

×
Berita Terbaru Update