Tanjung Jabung Timur, Liputan12.com – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, diperkuat dengan pengerahan satu unit helikopter milik TNI Angkatan Darat (TNI AD). Helikopter tersebut dikerahkan untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara sekaligus membantu mobilisasi personel dan perlengkapan pemadaman darat.
Pada Minggu, 18 Oktober 2026, helikopter beserta personel dan perlengkapan pendukung tiba di Dusun II Sungai Kapas, Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 18 personel beserta perlengkapan berupa mesin pompa, selang, tenda regu, dan peralatan pemadaman darat turut disiapkan untuk mendukung pelaksanaan tugas di sejumlah titik yang menjadi sasaran penanganan karhutla.
Kedatangan personel TNI AD disambut oleh Danramil Nipah Panjang, Kapolsek Sadu, petugas polisi kehutanan (polhut), Camat Sadu, Kepala Puskesmas Air Hitam Laut, pemerintah Desa Labuhan Pering, serta masyarakat setempat.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menangani kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut. Operasi penanganan karhutla melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim Search and Rescue (SAR), serta Manggala Agni.
Personel Gabungan Diarahkan ke Titik Api
Dalam rencana pelaksanaan operasi, personel gabungan akan diarahkan menuju titik-titik api di wilayah Parit 9, Parit 10, dan Parit 11, Dusun II Sungai Kapas, Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu.
Penempatan personel di lokasi tersebut direncanakan untuk memperkuat upaya pemadaman secara langsung di lapangan. Dukungan peralatan berupa mesin pompa dan selang diharapkan dapat menunjang kegiatan pemadaman darat, terutama dalam menjangkau area yang membutuhkan penanganan lebih dekat.
Untuk tahap awal, penugasan satuan tugas darat direncanakan berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Pelaksanaan tugas tersebut diarahkan untuk mendukung upaya pemadaman secara terpadu, sekaligus melengkapi penanganan melalui udara menggunakan metode water bombing atau penjatuhan air dari helikopter.
Kombinasi pemadaman dari udara dan darat menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam penanganan karhutla. Pemadaman udara dapat membantu membasahi area yang terbakar, sedangkan personel darat dapat melakukan penanganan lanjutan terhadap titik api yang masih memerlukan penyiraman dan pendinginan.
Pemadaman Lahan Gambut Membutuhkan Penanganan Berkelanjutan
Penanganan karhutla di kawasan berlahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Air yang dijatuhkan melalui metode water bombing umumnya lebih dahulu membasahi bagian permukaan lahan, sementara bara api berpotensi masih tersimpan di lapisan gambut yang lebih dalam.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan titik api kembali muncul apabila proses pemadaman dan pendinginan belum menjangkau bagian yang masih menyimpan panas. Karena itu, penanganan melalui darat tetap diperlukan untuk mendukung pemeriksaan dan pemadaman lanjutan pada area terdampak.
Keterlibatan personel gabungan bersama dukungan helikopter diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan karhutla di wilayah Kecamatan Sadu. Koordinasi antarlembaga, kesiapan peralatan, serta keberlanjutan proses pemadaman dan pendinginan menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran di kawasan tersebut.
Meski demikian, perkembangan luas area terdampak, kondisi terkini titik api, serta hasil operasi pemadaman masih perlu dipastikan melalui keterangan resmi dari pihak terkait.
Penulis: Syam Tim Liputan12.com





