Manggarai Timur, Liputan12.com — Kondisi memprihatinkan masih dirasakan para siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) Toang, Kelurahan Lempang Paji, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Pasca-gempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, sebanyak enam ruang kelas SDI Toang mengalami kerusakan berat hingga ambruk. Sejumlah fasilitas sekolah lainnya juga turut terdampak.
Kerusakan tersebut membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak dapat dilaksanakan seperti kondisi normal. Untuk sementara, proses pembelajaran dipindahkan ke tenda darurat yang didirikan sebagai tempat belajar sementara bagi para siswa.
Namun, keterbatasan tenda dan fasilitas pendukung membuat seluruh kegiatan belajar belum dapat tertampung secara layak. Sebagian siswa bahkan masih harus mengikuti pembelajaran di bawah pohon.
Meski berada dalam situasi serba terbatas, para guru dan siswa tetap berupaya menjalankan proses pendidikan. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberlangsungan kegiatan belajar di tengah masa pemulihan pascagempa.
Saat dikonfirmasi Liputan12.com, Rabu (23/9/2026), Vinsensa Lisa Kosta dari SDI Toang menyampaikan bahwa pihak sekolah masih menghadapi sejumlah kebutuhan mendesak untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
“Kami kekurangan laptop dan juga membutuhkan Starlink karena jaringannya tidak stabil. Listrik juga belum masuk sampai saat ini, kami menggunakan generator atau genset,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan sekolah tidak hanya berkaitan dengan perangkat teknologi dan akses internet. Buku pelajaran, alat tulis, bolpoin, serta berbagai perlengkapan administrasi dan alat tulis kantor (ATK) juga masih diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah karena ruang kelas yang selama ini menjadi tempat utama pembelajaran mengalami kerusakan akibat bencana.
“Kami sangat berharap sekolah kami diperhatikan. Pemerintah Daerah melalui Dinas PPO Kabupaten Manggarai Timur sekiranya dapat memenuhi fasilitas seperti alat tulis untuk peserta didik dan beberapa fasilitas lain yang dibutuhkan,” harapnya.
Pihak sekolah juga berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dapat memberikan perhatian terhadap kondisi SDI Toang, termasuk melalui program revitalisasi sekolah.
Revitalisasi dinilai penting agar proses pembelajaran tidak terus berlangsung dalam kondisi darurat. Dengan adanya ruang kelas yang aman dan memadai, para siswa diharapkan dapat kembali mengikuti kegiatan belajar secara lebih nyaman dan optimal.
Di tengah kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih, para guru dan siswa SDI Toang tetap berusaha menjaga keberlangsungan pendidikan. Mereka kini berharap dukungan pemerintah dan berbagai pihak dapat segera diwujudkan, sehingga kebutuhan mendesak sekolah terpenuhi dan para siswa tidak harus terus belajar dalam keterbatasan.
Yohanes
