- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pemkot Tegal Luncurkan Gerakan Gropyokan untuk Atasi Persoalan Sampah, Target Pengurangan Sampah 60 Persen Tahun Ini

Jumat, 01 Mei 2026 | 5/01/2026 03:44:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-01T08:44:43Z

KOTA TEGAL, liputan12.com – Pemerintah Kota Tegal resmi meluncurkan program Gerakan Gropyokan Nangani dan Mberesi Sampah sebagai upaya konkret untuk mengatasi persoalan sampah dari sumbernya. Kegiatan launching dan sosialisasi yang digelar di Ruang Rapat Perumda Tirta Bahari pada Kamis (30/04/2026) dihadiri oleh sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, antara lain Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah, Sekretaris Daerah Kota Tegal Agus Dwi Sulistyantono, Komisi III DPRD Kota Tegal, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Kepala OJK Tegal, serta para kepala OPD dan perwakilan masyarakat.

Ketua penyelenggara kegiatan sekaligus Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Untung Pri Wibowo, dalam laporannya menyampaikan bahwa Kota Tegal saat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Timbulan sampah harian mencapai sekitar 170 ton, namun baru sekitar 30 persen atau 50 ton yang berhasil dikurangi dari sumbernya. Sisanya, sekitar 120 ton per hari, masih harus diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bokong Semar.

“Kondisi ini menyebabkan beban operasional TPA semakin berat dan umur pakainya menjadi lebih pendek dari target yang direncanakan. Kita tidak bisa hanya bergantung pada pembuangan akhir, melainkan harus mulai mengendalikan sampah dari sumber penghasilannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, program gropyokan ini juga menjadi bagian penting dari upaya memenuhi target nasional pengurangan sampah sebesar 60 persen pada tahun 2026 dan menuju visi Kota Tegal bebas sampah (zero waste) pada tahun 2029. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya dari berbagai sumber seperti rumah tangga, perkantoran, sekolah, tempat usaha, dan pasar yang menjadi kontributor utama timbunan sampah.



“Melalui pendekatan gotong royong yang kental dengan nilai budaya lokal, masyarakat diharapkan mampu memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah secara mandiri sebelum sampai ke TPA,” jelas Untung Pri Wibowo.

Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan cara menangkapnya di hilir, melainkan harus diselesaikan dari hulu yakni dari sumber penghasil sampah itu sendiri.

“Permasalahan utama dalam pengelolaan sampah saat ini terletak pada belum optimalnya pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Karena itu, kita perlu pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menyeluruh melalui gerakan gropyokan ini,” ujar Dedy Yon Supriyono.

Ia menjelaskan bahwa program ini mengadopsi pendekatan “orang tua asuh” yang telah terbukti efektif dalam penanganan stunting, dengan melibatkan seluruh OPD, sekolah, dan puskesmas sebagai agen pendamping di tingkat kelurahan. Melalui pendekatan tersebut, edukasi terkait pemilahan sampah organik dan anorganik akan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.

“Sampah organik yang sebagian besar berasal dari sisa makanan dan tumbuhan akan diolah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Sementara itu, sampah anorganik seperti kertas, plastik, dan kaleng dapat dimanfaatkan kembali atau memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah yang akan dibina di setiap kelurahan,” tambahnya.

Seluruh kelurahan di Kota Tegal, yang berjumlah 27 kelurahan, akan menjadi sasaran utama program ini, dengan pendampingan dari 34 OPD pemerintah kota, 25 sekolah tingkat SMP dan SMA, serta 8 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tegal. Setiap kelurahan akan mendapatkan pendamping khusus yang akan membantu membentuk kelompok pengelola sampah dan melakukan bimbingan teknis secara berkala.

Rangkaian kegiatan dalam program Gerakan Gropyokan meliputi sosialisasi menyeluruh ke seluruh lapisan masyarakat, pelatihan praktis pengelolaan sampah, pendampingan langsung di lapangan oleh tim pendukung, serta monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan program berjalan sesuai target.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga meminta seluruh jajaran pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengimplementasikan program di lapangan, menyusun jadwal dan sasaran yang jelas serta terukur, serta melakukan evaluasi berkelanjutan agar program berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selain kegiatan sosialisasi dan pembekalan materi, acara juga diisi dengan paparan dari berbagai narasumber ahli, antara lain Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Setyo Winarso yang membahas tentang strategi pengelolaan sampah berkelanjutan, Sekretaris Daerah Kota Tegal Agus Dwi Sulistyantono yang menjelaskan dukungan kebijakan pemerintah daerah, serta Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal yang memaparkan rencana aksi teknis program ini.

Sebagai bentuk dukungan nyata dari pemerintah kota, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis berupa alat komposter dan timbangan kepada perwakilan bank sampah dari setiap kecamatan di Kota Tegal. Alat bantu ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam mengolah sampah dan mengelola bank sampah secara terstandarisasi.

Melalui Gerakan Gropyokan Nangani dan Mberesi Sampah ini, Pemerintah Kota Tegal berharap dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan nilai sampah.


Penulis : Ag

×
Berita Terbaru Update