- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Perkiraan Awal Ramadan 2026: Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah, dan NU Beri Pandangan Berbeda

Sabtu, 14 Februari 2026 | 2/14/2026 08:31:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T02:14:43Z

JAKARTA, Liputan12.com - Masyarakat Indonesia tengah antusias mencari informasi terkait perkiraan awal puasa Ramadan 2026. Dengan mengetahui kapan bulan suci Ramadan akan tiba, umat Muslim dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik secara spiritual dan fisik. Meskipun pemerintah belum menetapkan secara resmi, beberapa prediksi dari berbagai sumber dapat dijadikan acuan.

Berikut adalah rangkuman perkiraan awal puasa Ramadan 2026 berdasarkan pandangan pemerintah, BRIN, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU):


1. Perkiraan Pemerintah:

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum secara resmi menetapkan tanggal 1 Ramadan 1447 H. Namun, merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kemenag, awal Ramadan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memberikan informasi prakiraan hilal (penampakan bulan baru) pada saat matahari terbenam tanggal 17 dan 18 Februari 2026 sebagai dasar ilmiah untuk penentuan awal Ramadan.

Menurut data hisab BMKG, hilal belum memenuhi kriteria untuk diamati pada 17 Februari 2026, karena ketinggian hilal masih berada di bawah horizon. Namun, pada 18 Februari 2026, posisi hilal telah berada di atas horizon dengan ketinggian dan elongasi yang memadai untuk diamati.

Indonesia menggunakan kriteria Imkanur Rukyat yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

 

2. Perkiraan BRIN:

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi bahwa awal puasa Ramadan 1447 H akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan perkiraan pemerintah.

Namun, Koordinator KR Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa terdapat potensi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh posisi hilal seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan antara "hilal lokal" dan "hilal global".

BRIN menilai bahwa hilal lokal (yang diamati di wilayah Indonesia) tidak memenuhi kriteria visibilitas pada saat sidang isbat tanggal 17 Februari 2026.

 

3. Perkiraan Muhammadiyah:

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi bahwa 1 Ramadan 1447 H akan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dengan mengacu pada parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah. Dengan metode ini, Muhammadiyah menggunakan "hilal global", yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun di dunia dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan.

 

4. Perkiraan Nahdlatul Ulama (NU):

Hingga saat ini, belum ada ketetapan resmi dari Nahdlatul Ulama (NU) mengenai kapan 1 Ramadan 2026 akan berlangsung. NU biasanya menunggu hasil pemantauan hilal (rukyatul hilal) yang dilakukan oleh tim pada bulan Syaban.

Namun, merujuk pada prediksi kalender Almanak NU, diperkirakan bahwa 1 Ramadan 1447 H akan berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026.


Kesimpulan:

Berdasarkan perkiraan dari berbagai sumber, terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa Ramadan 2026. Muhammadiyah diperkirakan akan memulai puasa pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah, BRIN, dan NU diperkirakan akan memulai puasa pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perbedaan ini merupakan hal yang biasa terjadi dalam penentuan awal bulan Kamariah (bulan dalam kalender Hijriah). Umat Muslim diimbau untuk tetap menghormati perbedaan ini dan menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk sesuai dengan keyakinan masing-masing. Pemerintah akan menggelar sidang isbat untuk menentukan secara resmi kapan awal Ramadan 1447 H akan dimulai.

Terkait potensi perbedaan awal Ramadan 2026, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan bijaksana. Perbedaan dalam penentuan awal bulan Qamariah merupakan hal yang lumrah terjadi dan telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam. Setiap organisasi atau lembaga memiliki metode dan kriteria tersendiri dalam menentukan awal bulan, yang didasarkan pada interpretasi terhadap dalil-dalil agama dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan terus berupaya menjalin komunikasi dan koordinasi dengan berbagai ormas Islam dan pihak terkait untuk mencari titik temu dalam penentuan awal Ramadan. Sidang isbat akan digelar secara terbuka dan transparan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk ulama, ahli astronomi, dan perwakilan ormas Islam. Hasil sidang isbat akan menjadi acuan resmi bagi seluruh umat Muslim di Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadan.

Sambil menunggu ketetapan resmi dari pemerintah, umat Muslim dapat mempersiapkan diri dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, dan mempererat tali silaturahmi. Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan, sehingga setiap Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, umat Muslim juga diimbau untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta menghindari perdebatan yang tidak produktif terkait perbedaan dalam penentuan awal Ramadan. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Dengan persiapan yang matang dan semangat persatuan, diharapkan umat Muslim di Indonesia dapat menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadan 2026 dengan khusyuk dan penuh keberkahan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan memberikan ampunan atas segala dosa-dosa kita. Aamiin.


#Redaksi

×
Berita Terbaru Update