Faktor Terjadinya Banjir di Daerah Demak dan Cara Menanggulanginya

   Foto Dampak Banjir Demak 

DEMAK, LIPUTAN 12 . COM - Banjir yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah sejak Senin (5/2) meluas hingga sebabkan 11 kecamatan terdampak. Hingga hari ini (9/2) upaya evakuasi warga terdampak di Kecamatan Karanganyar terhambat arus deras.

Banjir bandang ini dipicu hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu. Tingginya debit air membuat sepuluh tanggul di wilayah Kabupaten Demak jebol. 

Mengakibatkan 89 desa di 11 kecamatan yang berada di Kabupaten Demak terendam banjir. Adapun Sebelas kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Demak, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Sayung, Kecamatan Mranggen, dan Kecamatan Wonosalam. Kemudian, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Karangawen, Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Guntur, Kecamatan Dempet, serta Kecamatan Gajah.

Tanggul-tanggul itu ternyata telah berusia puluhan hingga ratusan tahun, bahkan dibangun sejak era kolonial Belanda. Imbasnya, lebih dari 95.000 orang terdampak dan sekitar 25.000 orang di antaranya mengungsi. Jalur Pantura ruas Demak – Kudus pun “lumpuh total” karena ketinggian air mencapai 1,5 meter. Kondisi itu membuat akses transportasi dan logistik menjadi terhambat.

Kecamatan Karanganyar menjadi wilayah yang terdampak banjir paling parah. Air dengan arus deras dan ketinggian air mencapai 2,5 meter menerjang pemukiman warga. Jalan-jalan protokol, masjid, hingga alun-alun di Kota Demak juga terendam sehingga mengganggu aktivitas ekonomi.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menuturkan cuaca ekstrem kali ini dipicu oleh fenomena atmosfer yakni Madden Julian Oscillation (MJO) yang juga dipengaruhi oleh tiga bibit siklon tropis.
Menurutnya, dampak banjir di Demak terasa “lebih parah” dibandingkan pada Februari lalu karena saat cuaca ekstrem terjadi, kondisi air laut juga sedang pasang maksimum mencapai 165 cm. 

“Ketika hujan ada peningkatan, dari laut juga naik sehingga air limpasan tidak bisa mengalir ke laut,” kata Andri Ramdhani. Belum lagi faktor drainase di sekitarnya yang tidak memadai untuk menyerap limpasan air sehingga banjir terasa lebih parah.

Pendapat berbeda soal pemicu cuaca ekstrem disampaikan oleh peneliti klimatologi BRIN Erma Yulihastin.
Menurut Erma, cuaca ekstrem selama sekitar 10 hari belakangan di Jawa Tengah “tidak lain dan tidak bukan dipicu oleh squall line” di area yang dia sebut sebagai Tanjung Jepara. 

Squall line atau yang dia sebut sebagai “jalan tol hujan” merupakan sistem badai yang terbentuk dari pertumbuhan awan secara horizontal. Tanjung Jepara yang dia maksud adalah wilayah di utara Jawa Tengah dari Demak hingga Jepara yang lebih menjorok ke laut.

“Di Laut Jawa itu langsung tiba-tiba ada garis panjang gitu kan, warnanya merah semua, langsung tiba-tiba hujan dengan intensitas tinggi di situ. Beda dengan penjalaran hujan biasa,” jelas Erma.
Hujan ekstrem yang intens selama 10 hari itu dinilai berkontribusi pada jebolnya tanggul. 

Dalam ancaman seperti ini, Erma mengingatkan bahwa kota-kota pesisir lah yang paling terdampak dan perlu dilindungi. Perubahan iklim, dapat menyebabkan hujan badai semacam ini kian sering terjadi dan makin mengancam kota-kota pesisir.

“Apa yang terjadi selama 10 hari didera hujan deras secara intensif, itulah yang menyebabkan kawasan pesisir bisa hancur. Semua kota-kota pesisir bisa terancam ketika badai meningkat,” kata Erma.
BMKG mengatakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga April mendatang, meski ada kemungkinan periodenya terjadi secara singkat. 

Namun dalam beberapa hari ke depan, dia menyebut intensitas cuaca ekstrem di Jawa Tengah akan mulai mereda.
Cuaca ektrem ini tidak Cuma menyebabkan bencana hidrometerorologi seperti banjir dan longsor. Namun pada musim kemarau, juga dapat menyebabkan kekeringan.

Untuk mengurangi tingginya genangan air yang masuk permukiman penduduk, masyarakat kampung Bogorame membendung aliran air banjir dengan kantong sak berisi pasir.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo menyebut ada tiga upaya yang akan dilakukan untuk mengatasi banjir di wilayah ini.

Dengan perbaikan tanggul. Kata Jokowi, banjir di Demak merupakan imbas dari cuaca ekstrem hingga menyebabkan jebolnya tanggul. Untuk diketahui banjir di wilayah perkotaan Demak dipicu jebolnya tanggul Sungai Lusi di Desa Bugel, Kecamatan Godong.
Pemerintah pusat telah melakukan rekayasa cuaca agar intensitas hujan di kawasan Demak berkurang.

Kegiatan pemompaan air yang bakal terus dilakukan meski banjir sudah mulai surut.
Selain akibat cuaca ekstrem, Presiden Jokowi juga menyebut bahwa penebangan hutan secara liar di hulu berkontribusi pada bencana banjir kali ini.

“Pemerintah daerah itu penanaman kembali, penghutanan kembali, pengalihan lahan memang harus tetap,” ujarnya.(Ag)


Sumber  : https://demakkab.go.id/news/banjir-di-demak-semakin-meluas, Administrator (2024).,
 BBC News Indonesia (2024).,
Ratna Riadhini Darmawan (2024).

Oleh : Adinda Salwa Audi (Mahasiswa Prodi Tadris IPS 2B  UIN Syber Syekh Nurjati Cirebon).
Ditulis untuk memenuhi tugas artikel essay individu mata kuliah Mitigasi Bencana Alam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama