Erupsi Gunung Ruang, Strategi Rekayasa Lingkungan untuk Mengurangi Dampak Letusan Gunung Api



SULAWESI UTARA, LIPUTAN 12. COM - Baru-baru ini, muncul berita mengenai erupsi Gunung Ruang pada tanggal 17/4/2024 dikepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. “Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, letusan gunung api kini berstatus ‘awas’ level IV dengan ketinggiaan 725 mdpl yang semakin meluas.” https://bnpb.go.id/berita/update-dampak-erupsi-gunungapi-ruang-meluas-upaya-penanganan-darurat-terus-dimaksimalkan.

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh faktor alam, non alam, atau faktor manusia yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia, sehingga menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan hidup, dan harta benda.

Letusan Gunung Merapi berpotensi menimbulkan bahaya letusan lava, awan panas, dan gas beracun, serta dampak awan panas tersebut dapat menyebabkan kerusakan lahan warga di sekitar Gunung Merapi. Letusan Merapi akan menimbulkan dampak negatif yang signifikan jika masyarakat setempat gagal merespons risiko letusan. Oleh karena itu dilakukannya mitigasi bencana.

Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik dan penyadaran, serta dengan meningkatkan kemampuan mengatasi ancaman bencana. 

Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana terhadap masyarakat di daerah rawan bencana. Mitigasi merupakan tahapan atau langkah menuju pengurangan risiko yang ditimbulkan oleh suatu bencana. Ada dua bagian penting dalam mitigasi yaitu, mitigasi bencana dan pencegahan bencana.

Namun, masih sulit bagi masyarakat untuk mengatasi semua masalah yang timbul akibat bencana alam ini. Dikarenakan sebagian Masyarakat masih belum mengetahui apa yang harus dipersiapkan jika terjadi bencana atau bagaimana mengurangi risiko terjadinya letusan gunung berapi. 

Maka dari itu untuk meminimalkan dampak negatif dari letusan gunung api, diperlukan strategi rekayasa lingkungan yang komprehensif.
Menciptakan sistem peringatan dini yang efektif

Hal ini mencakup pemantauan aktivitas gunung berapi secara intensif dengan menggunakan teknologi modern seperti seismometer, GPS, dan tiltmeter. 

Data ini dapat dianalisis untuk memprediksi kemungkinan terjadinya letusan dan memperingatkan masyarakat di sekitar gunung berapi. Sistem peringatan dini yang cepat dan akurat dapat membantu mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman.

Penataan tata ruang yang tepat
Dimana kawasan yang rentan terhadap letusan gunung berapi harus diidentifikasi dan ditetapkan sebagai kawasan lindung yang pembangunannya dibatasi. Sementara itu, pemukiman dan infrastruktur penting harus direlokasi ke wilayah yang lebih aman. Perencanaan tata ruang yang tepat dapat mengurangi jumlah kematian dan kerusakan harta benda akibat letusan gunung berapi.

Membangun infrastruktur penanganan bencana yang tangguh
Hal ini mencakup pembangunan shelter darurat, jalan evakuasi, dan fasilitas kesehatan yang mampu menahan dampak letusan gunung berapi. Selain itu, persediaan logistik dan peralatan tanggap bencana harus siap digunakan saat terjadi letusan.

Partisipasi aktif Masyarakat
Edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi penduduk di sekitar gunung api sangat penting dilakukan. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda letusan, prosedur evakuasi, dan tindakan mitigasi yang harus dilakukan. Dengan cara ini, masyarakat lokal dapat berpartisipasi dalam upaya mengurangi risiko letusan gunung berapi.

Strategi lingkungan yang komprehensif dapat meminimalkan dampak negatif letusan gunung berapi. Sistem peringatan dini, perencanaan tata ruang yang tepat, pembangunan infrastruktur yang berketahanan, dan partisipasi aktif masyarakat merupakan elemen kunci dalam upaya mengurangi risiko letusan gunung berapi. Penerapan strategi ini akan menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar gunung berapi.(Ag)


Lusiani, Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Program Study Tadris IPS.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama